Tender Conscience

Terpilihnya Ratzinger menjadi Paus Benedict baru-baru ini menimbulkan banyak perdebatan. Ratzinger terkenal seorang yang konservatif. Golongan Liberal, golongan pro-aborsi, golongan gay dan lesbian, golongan pro-euthanasia, dll sangat tidak puas. Mereka menilai Ratzinger kuno, tidak mengikuti perkembangan zaman, tidak fleksibel.

Sebuah artikel di Herald Sun menulis: “Kenapa orang lebih suka Dalai Lama dibanding kekristenan? Karena Dalai Lama mempromosikan ajaran yang membuat orang merasa enak. Bagaimana mencari
ketenangan batin, kedamaian hati, hidup harmonis dengan alam, dll. Sedangkan Kekristenan mempunyai standard kebenaran yang membuat orang tidak comfortable.”

Feeling Good Mentality sedang bekerja secara luar biasa akhir-akhir ini. Kalau aborsi membuat hidupmu lebih mudah, lakukanlah. Kalau pernikahan membuat hidupmu susah, silakan cerai. Lakukanlah apa saja
yang membuatmu senang! Generasi ini sedang mengalami kehancuran moral. Coba bandingkan dengan generasi kakek nenek kita. Hal-hal diatas yang dianggap biasa zaman ini, dulu dianggap tabu!

Antidot dari Feeling Good Mentality bukanlah Feeling Bad Mentality: sengaja cari susah, sengsara, anti having fun, dll. Itu semua adalah hal-hal yang diluan yang bisa dibuat-buat. Tuhan selalu bicara mengenai hati, sumber dari segala perbuatan kita. Untuk menghindari Feeling Good Mentality yang menghancurkan karal moral ini, kita perlu mempunyai tender conscience atau hati yang lembut yang gampang dibentuk:

Empat hal bisa kita pelajari dari kisah Daud di dalam 1 Samuel 23 & 24 untuk keep tender conscience di dalam kita:

Don’t get too excited. Di dalam 1 Samuel 23:7 ditulis bahwa Daud telah masuk Kehila. Lalu berkatalah Saul: “Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku …” Sedangkan 1 Samuel 24:5 berkata: ”Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan Tuhan kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu…” Kedua belah pihak klaim Tuhan ada di pihak mereka. Siapa yang benar? Kedua belah pihak sudah terlalu excited dan terburu-buru mengambil kesimpulan. Tuhan tidak menyerahkan Daud ke dalam tangan Saul, bahkan Tuhan melindungi dia. Tuhan juga tidak menyerahkan Saul ke dalam tangan Daud karena Dia sendiri yang akan berurusan dengan Saul.

Seringkali kita miss kehendak Tuhan karena kita become too excited. Alkitab berkali-kali katakan: jadilah tenang dan kuasai dirimu, supaya engkau bisa berdoa. Dengan kata lain supaya engkau bisa mendengar suara-Nya. Pendengaran akan suara Tuhan membuat hati kita lembut.

Hindari ‘keselamatan’ yang bisa dijelaskan logika. Daud mempunyai beberapa kesempatan untuk menyelamatkan jiwanya dengan membunuh Saul. Tapi Daud menyadari, kalau dia melakukan hal itu, bukan saja hati nuraninya akan
terganggu seumur hidupnya, tapi itu juga berarti dia mengandalkan kekuatannya sendiri.

Seringkali kita berusaha menyelamatkan diri sendiri dengan cara-cara yang logic. Dengan berbuat baik, rajin ke Gereja, dengan mempunyai moral yang tinggi, atau dengan merancang jalan pintas untuk keluar dari masalah, karena kita malas menantikan keselamatan yang dari Tuhan. Ingat: Salvation belongs to the Lord!

Jalan di dalam Terang, yang berarti terbuka pada pimpinan Roh Kudus dan lakukan apapun yang diperintahkan-Nya. Dia akan menyadarkan kita akan dosa-dosa kita dan memimpin kita kepada Kebenaran, yaitu Tuhan sendiri.

Di zaman yang mendewakan relativitas, yang mengatakan segala sesuatu adalah relatif, kita perlu betul-betul sensitif pada pimpinan Tuhan. Daud merasa bersalah karena telah memotong punca jubah Saul dengan diam-diam (1 Samuel 24:5 & 6). Mungkin kita bingung, kenapa ia harus merasa bersalah? Sudah bagus dia tidak membunuh Saul! Tapi Daud tidak bersandar pada pendapat umum, melainkan pada suara di hatinya.

Ada hal-hal yang mengganggu hati kita yang bagi orang lain ‘normal’. Saat – saat seperti demikian kita harus lebih mendengarkan suara halus yang berbicara melalui hati nurani kita dan melakukannya, walaupun bertentangan dengan pendapat orang banyak.

Mengapa ‘tender conscience’ demikian penting? Karena tanpa hati yang lembut yang mau dibentuk, kita tidak bisa mendengar suara Tuhan. Bagi saya, mendengar suara Tuhan adalah hal yang vital. Kalau kita tuli rohani, kita akan membenarkan semua perbuatan kita yang salah dan membuat hati kita semakin keras.

Mungkin saudara pernah mengalami jamahan Tuhan melalui hal atau firman yang simple, tetapi engkau tidak menanggapinya. Dan sekarang hal yang sama tidak lagi menyentuhmu, kenapa? Karena
hatimu menjadi keras. Ibrani 4:7 berkata: ‘Hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.

Jadi, jika sekarang engkau masih mendengar suara-Nya, sesamar apapun, lakukanlah! Jangan tunggu kalau-kalau Dia bicara lagi pada kesempatan lain. Jangan ambil resiko ini. Kejadian 6.-3 berkata: ‘Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam  manusia…’ Setiap kali kita ignore suara-Nya, kita akan semakin tuli dan hati kita semakin keras.

Tender conscience adalah modal kita untuk hidup di zaman Feeling Good Mentality & Relativism. Tanpa itu, kita akan bingung dan tersesat selama-lamanya!
To God Be the Glory!

Author – Alicia Tani

Choose Right!

“…Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.  Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”
Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
Lukas 10:38-42

Seekor anak kelinci salju bermain dengan gembira di luar lapangan bersalju tempat keluarganya hidup. Bulunya dan latar belakang salju yang putih membuat dia sulit terlihat oleh elang yang sering terbang di atasnya.

Suatu hari saat dia sedang bermain, tiba-tiba muncul seekor tikus kecil. Kelinci Salju itu mengajak sang tikus untuk bermain bersama. Mereka jadi berteman dan bermain di salju dekat rumah sang kelinci salju. Tikus ini kembali keesokan harinya dan esoknya lagi, dan teman baru ini bermain bersama setiap hari.

Kemudian suatu hari tikus berkata: “Hai, marilah bermain di rumahku!” Kelinci salju melihat ke sekeliling dan bertanya: “Dimana rumahmu?”

“Aku tinggal dalam sebuah rumah besar, tempat dimana manusia tinggal,” jawa tikus. “Keluargaku dan aku tinggal dalam ruang bawah tanah tempat penyimpanan batu bara. Kita dapat bermain sembunyi-sembunyian dalam batu bara dan bersenang-senang. Hayo kita pergi sekarang.”

“Aku, aku tidak tahu,”jawab kelinci salju. “Aku seharusnya tetap berada di dekat lubang rumah kami. Ibuku tidak suuka aku pergi ke tempat dimana dia tidak dapat mendengar aku.” Sambili melihat ke langit, kelinci salju melanjutkan kata-katanya, “Kamu lihat itu, ada elang disana.”

“Oh, janganlah jadi pengecut.” Jawab tikus. “Elang tidak akan dapat menangkapmu. Kita akan bermain di dalam rumah besar, dalam ruang bawah tanah! Tidak akan ada burung besar buruk yang akan melihat kamu disana.”

“Baiklah” jawab kelinci salju, “kukira hal itu tidak akan merugikan kalau hanya sekali ini saja.” “Disamping itu dia tidak ingin temannya menganggap ia begitu pengecut.

Jadi, kelinci salju dan tikus berlari-lari secepat mungkin ke ruang penyimpana baru bara, tempat keluarga tikus tinggal. Mereka memanjat, bersembunyi, bermain dan berguling-guling dalam batu bara. Ketika hari mulai gelap, kelinci salju tahu ia harus pulang. Dia mengucapkan selamat tinggal pada tikus temannya., dan berlari dari ruang batu bara secepat kaki dapat membawa badannya untuk pulang ke rumahnya.

Tinggi di angkasa seekor elang terbang memutar, mengawasi tanah di bawahnya., mencari makanan terakhir hari itu.  Tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya. Itu adalah kelinci salju, yang bulu puthinya telah hampir menjadi hampir hitam terkena batu bara, berlari cepat melintasi salju menuju rumahnya. Elang itu menukik ke tanah, dan dalam satu sambaran kilat, menangkap kelinci salju itu dalam cakarnya dan membawanya terbang…

Sampai hari ini, keluarga kelinci salju menuturkan cerita mengenai anak kelinci salju yang mengalami akhir buruk karena membiarkan temannya membujuknya untuk membuat pilihan yang salah.

Setiap saat dalam kehidupan kita dihadapkan dengan pilihan. Belajar atau menonton? Main game atau membersihkan kamar? Pergi ke kebaktian atau pergi shopping? Chatting di internet atau chatting di dalam roh (BERDOA)!) Dst, dst…

Saudara dapat mengisi harimu dengan pilihan yang salah, pilihan egois, pilihan yang hanya membawa kegelapan, kekecewaan, serta kematian. Atau saudara dapat mengisi hari-harimu dengan pilihan tepat yang membawa engaku pada kehidupan yang kekal.

Kita mungkin tidak langsung mengetahui hal-hal baik yang akan terjadi bila kita membuat pilihan yang benar. Kita tidak apa hal-hal buruk yang mungkin terjadi bila kita membuat pilihan yang salah. Bahkan, kadang-kadang tampaknya pilihan yang benar mungkin mempunyai konsekuensi yang tidak menyenangkan, sementara pilihan yang salah tampaknya lebih mudah dan merupakan cara terbaik untuk menangani situasi. Hal itu terjadi karena kita tidak dapat melihat segala sesuatu yang terjadi, apalagi yang akan terjadi. Penglihatan ktia terbatas.

Kita melihat seperti dari lubang kunci, hanya dapat melihat  lurus ke depan, sangat terbatas. Tetapi Tuhan, DIA dapat melihat seluruhnya. DIA dapat melihat segala sesuat yang sedang dan akan terjadi. DIA memberitahu kita, keadaan kita akan lebih baik dalam jangka panjang bila kita membuat pilihan yang benar.

Jadi ketika pilihan salah tampak seperti lebih menyenangkan ketimbang pilihan benar, ingatlah bahwa saudara hanya melihat lewat lubang kunci.  Ketika pilihan salah tampaknya demikian mudah dan pilihan benar tampaknya sukar, ingat bahwa kita tidak dapat melihat seluruh ruangan. Keitka pilihan salah mempunyai manfaat seketika, dan pililhan benar tidak, ingat bahwa Tuhan dapat melihat segala sesuatu yang terjadi. DIA berkata keadaanmu akan mejadi lebih baik dalam jangka panjang bila kamu membuat pilihan yang benar.

Buatlah itu menjadi sasaranmu hari ini –  dan setiap hari dalam kehidupanmu – untuk mengisi hari-harimu dengan pilihan yang benar dan terbaik, seperti yang dilakukan oleh Maria. Jangan seperti pilihan anak kelinci salju. Dalam kisah yang ditulis dalam Injil Lukas pasal 10 ayat 38-42, Yesus berkata bahwa Maria tela memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya. Pilihan tepat dari Maria membawa dia pada kehidupan kekal yang tidak akan dimabil daripadanya.

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuanyang benar dan dalam segala macam pengertian,sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacatmenjelang hari Kristus,penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” (Filipi 1:9-11)

Author – Pdt. Mindjaja Tani

When God Doesn’t Make Sense

Saya suka iseng membrowse Koorong.com untuk melihat  buku-buku  Christianity, siapa tahu ada yang lagi sale  banyak dan saya jadi tertarik untuk beli 🙂

One day, as i browsed casually, i happened to see this  book with title of  When God doesn’t make sense.

Saya pun membelinya dan mulai membacanya. Disini  saya mengenal  istilah baru yang dipakai oleh Dr James  Dobson, the betrayal barrier, suatu  istilah yang digunakan  untuk menggambarkan suatu periode dimana Tuhan  seakan-akan mengecewakan umatnya atau mengacuhkan  mereka.

Banyak kasus terjadi dimana seseorang baru saja lahir baru dan  mengalami begitu banyak cobaan, atau bisa juga pada seseorang yang sudah bertahun-tahun melayani Dia faithfully dan tiba-tiba hidupnya mulai collapse tanpa alasan. Reaksi natural setiap orang akan bertanya, “Tuhan, kenapa Kau biarkan hal ini terjadi pada saya?”, demikian kata buku ini. Mungkin sesekali saya juga pernah bereaksi yang sama.

whengoddoesntmakesenseSatu pengalaman pribadi yang sangat berharga adalah proses aplikasi PR saya.

Di saat-saat itu saya bisa menyadari dan mengatakan betapa tangan Tuhan yang sungguh nyata-lah yang telah menopang saya dan memberikan jalan keluarnya. It was a tough time and so uncertain, dimana orangtua saya tidak mendukung rencana saya untuk meng-apply PR sehingga saya memutuskan untuk mengurus semuanya sendiri, tanpa bantuan agen, untuk meminimalisir biaya yang harus dikeluarkan.

12 March 2008, I lodged my PR application. As days gone by, kepanikan saya semakin urung. Pasalnya tidak ada kabar sama sekali dari DIMIA, kecuali menyatakan bahwa aplikasi saya sudah masuk, that’s it. Tidak ada kabar tentang progressnya atau bahkan tentang kekurangan dokumen yang ada. Months gone by and I was left to hope only in Him. No one else, nothing else.

Dan suatu malam, 16 Oktober 2008, 7 bulan setelah lodgement, saya mendapat email yang menyatakan bahwa saya mendapat Skilled-Sponsored Visa. Awalnya sempat bingung dan tak percaya, tapi setelah dibaca dengan teliti dan konfirmasi, akhirnya saya mengerti bahwa itu adalah PR yang saya nanti-nantikan. I was speechless.

Banyak hal lain yang saya alami dimana Tuhan menyatakan kuasaNya. Namun hal PR ini menjadi one of the significant milestone of my journey in Him.

Sekarang, setiap kali saya mengalami pergumulan atau tantangan, saya diingatkan, melalui pengalaman ini,  bahwa pertolongannya sungguh tidak pernah terlambat.

Menyangkut dengan istilah betrayal barrier yang saya baru dapat ini, saya diingatkan untuk keep holding to the faith that we have in times of hardship.

Tidak saya sangkali bahwa ada keragu-raguan dalam diri saya bahwa Tuhan mungkin tidak akan menjawab persoalan saya ini, atau mungkin Dia akan jawab, namun bukan jawaban yang ingin saya dengar.

It is going to be hard, to walk in the mist where there seems to be no light, but God expect no more, no less than that. That is faith.

Don’t demand explanations. Don’t lean on your ability to understand. Don’t lose your faith. But do choose to trust Him, by the exercise of the will He has placed within you. The only other alternative – is despair. ( from page 89, last paragraph, When God doesn’t make sense )

Author – Gina Caswara

Weaknesses In Me

Sering sekali dalam hidup, manusia membatasi diri dengan fixed concept of themselves dan cenderung menjadikan hal tersebut sebagai alasan agar orang lain dapat memakluminya.

Disadari atau tidak hal tersebut menjadi lifestyle dalam hidup seseorang. Dengan kata lain, kelemahan dan kekurangan menjadi patokan atau penghalang untuk sebuah kesuksesan. Adalah pengalaman yang tidak enak saat kita menemukan adanya kelemahan dalam diri kita apalagi saat hal tersebut diketahui oleh orang lain.

Kelemahan itu bisa jadi sifat kita atau hal yang berhubungan dengan fisik kita. Menanggapi hal tersebut, beberapa orang dengan simpel berkata ‘ya, ini memang gw’ dan mencap diri sendiri dengan kelemahan tersebut.

Menyerah terhadap kelemahan berbeda dengan sekedar menerima keadaan. Orang yang menyerah terhadap kelemahan atau kekurangan cenderung menyalahkan keadaan dan memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dengan berpikir kalau semuanya itu adalah nasib.

Kemudian pertanyaan pun muncul, can we really overcome our weaknesses? Memang tidak mudah mengatasi hal tersebut tetapi jika kita mau, pasti akan ada solusi. “anda” bukan masalah anda

Terkadang kita cenderung berpikir bahwa beginilah diri kita beserta kelemahan-kelemahan yang ada. Hal ini tidaklah benar. Saat awan menutupi matahari, itu bukan berarti bahwa matahari tidak eksis. Semuanya kembali terserah kepada diri kita masing-masing, apakah kita mau menyerah dengan kelemahan dan kekurangan yang kita punya atau kita mau melakukan sesuatu yang lain tanpa memfokuskan diri kita pada kekurangan atau kelemahan yang ada.

Jangan Menyerah

seperti kata the massive ‘jangan menyerah’! Saat kita sadar akan kelemahan dan kekurangan kita, jangan menyerah! Pastinya tidak mudah untuk mengatasi kelemahan dan kekurangan yang kita miliki, tapi bukan berarti kita harus menyerah begitu saja. Seize the moment, seize the day, no matter what kelemahan atau kekurangan yang ada di dalam hidup kita, biarlah kita dapat terus berlari untuk mengejar mimpi.

So, bagaimana sikap kita dengan kelemahan dan kekurangan yang kita punya? Apakah kita mau menyerah begitu saja atau apakah kita mau terus maju tanpa memfokuskan pikiran kita pada kelemahan dan kekurangan yang ada.

Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Well, memang semuanya itu bukan hal yang mudah dan instan seperti indomie seleraku.

Tapi adalah suatu hal yang pasti kalau Tuhan memiliki rencana yang indah untuk setiap dari kita. No matter what kekurangan atau kelemahan yang ada di dalam diri kita atau bahkan crack di hidup kita, Dia tetap mengasihi kita. Dia juga dapat memakai setiap dari kita untuk menjadi “hero” di dalam Dia walaupun kita memiliki kekurangan dan kelemahan. Hanya saja kita perlu datang kepada Dia membawa semua kelemahan dan kekurangan atau bahkan crack yang kita punya. Dia yang akan menyempurnakan semuanya!

Baiklah kawan! Mari menjadi “HERO” di dalam Dia tentunya!

Author – Dyah Ayu Pranintyasari

Merdeka

Bulan Agustus merupakan bulan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, bulan dimana bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya dari kolonialisme, dari penjajahan, dan kemerdekaan untuk berdiri sendiri sebagai bangsa yang besar, dan yang terutama BEBAS. Karena itu kata Merdeka sering ditambahkan dengan kata Bebas, itu yang sering kita dengar ‘Bebas Merdeka’.

Tidak hanya suatu bangsa yang menginginkan untuk merdeka, kita semuanya juga menginginkan kemerdekaan dan kebebasan. Teringat waktu di mana kita masih kecil, serasa ingin cepat-cepat besar, hidup sendiri dan mandiri. Itu yang sering kita impikan. Tetapi apakah sebenarnya kemerdekaan itu.

Kita tentu pernah mendengar tentang cerita anak yang hilang. Cerita yang disampaikan oleh Yesus Kristus sendiri, dimana ada seorang anak yang ingin ‘merdeka’, seorang anak yang ingin hidup bebas, ingin hidup tidak lagi di rumah ayahnya. Ia pun meminta hak warisnya, dan kemudian memulai hidupnya yang bebas merdeka. Ia pergi jalan-jalan, pergi main-main, makan, pesta pora, mungkin juga shopping, dan hidup bebas merdeka berbuat menurut apa yang dikehendakinya. Hidup bebas merdeka, dimana tidak ada yang memarahi, melarang, hidup senang. Don’t we all love to live like that?

Sering kali gambaran inilah yang kita sangka arti hidup bebas merdeka itu. Hidup seperti anak yang hilang ini. Tetapi dari cerita ini, kita tahu bahwa bukan itu arti sebuah kemerdekaan. Dari cerita ini, kita dapat melihat bahwa ternyata ‘bebas merdeka’ yang sering kita pikirkan ternyata hanyalah another form of slavery, bahwa anak ini hidup di bawah penjajahan dunia dan dosa.

Seseorang menggambarkan arti kemerdekaan itu sebagai ‘Being able to be all that you were meant to be’. Being able to be all that you were meant to be. To be YOU. Kalau boleh saya tambahkan” Being able to be all that God intended us to be”. That is freedom, hidup yang tidak lagi dibawah penjajahan dunia, dan penjajahan dosa, hidup yang tidak lagi bergantung kepada keduniawian, atau hidup yang tidak lagi bergantung kepada nafsu yang sia-sia. Hidup yang dimerdekakan oleh kasih Kristus.

Rasul Yohanes berkata (1 Yohanes 5:20) … bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita…. Jadi Yesus datang juga untuk memberikan kepada kita pengertian. Apa yang dikatakan Yesus tentang pengertian untuk bagaimana untuk memperoleh kemerdekaan ini? Yohanes 8:30-32

John 8:30  Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.

John 8:31  Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku

John 8:32  dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Bahwa kita akan hidup merdeka kalau kita mengetahui kebenaran Kristus. Hidup bebas ‘to be all that God intended us to be’.

Kalau mau ditaruh dalam konteks yang lebih practical, dengan memiliki kemerdekaan Kristus, kita akan dapat hidup dengan jelas, dalam arti kita akan mengetahui kehendak Tuhan untuk hidup kita, hidup kita tidak akan terasa sia-sia atau bosan, hidup kita akan merdeka atas kekhawatiran, merdeka atas guilt and shame karena kegagalan kita, dan merdeka atas banyak hal-hal lainnya.

Merdeka atas kekhawatiran adalah hal yang sangat penting karena berapa banyak dari kita yang khawatir akan hidup ini (mungkin sekarang belom, tapi nanti kalau umur terus bertambah, nahhh ….), khawatir akan sekolah, khawatir akan pekerjaan, khawatir akan uang, khawatir tentang keluarga, dan kalau sudah lebih tua, khawatir tentang sakit, dan khawatir tentang kematian, what next after this life, dan kekhawatiran lainnya. Di dalam Kristus, kita akan dimerdekakan atas itu semua. What a wonderful promise!!

Bagaimana kita dapat meraih kemerdekaan itu? Apakah membutuhkan bambu runcing seperti pada saat Indonesia memperjuangkan kemerdekaan?

Yesus berkata untuk kita dapat memperoleh kemerdekaan itu, yang pertama adalah:

  1. Kita perlu percaya. Di dalam ayat Yoh 8:30 dikatakan, ‘Orang percaya kepadaNya’. Percaya kepadaNya, di dalam terjemahan Inggris ada dua, dalam New King James, dipakai ‘Many believed ON Him’, dalam terjemahan NIV, dipakai ‘Many put their faith IN Him. Kita lihat dari kata ‘ON’ dan ‘IN’ ini, bahwa hal pertama adalah kita perlu percaya kepada Kristus, tidak hanya percaya, tapi kepercayaan yang mengandung kata ‘ON’ dan ‘IN’ dengan kata lain, kita percaya kepada Kristus diatas, didalam, disekeliling, ON dan IN. Percayalah kepada Kristus sepenuhnya.
  2. Hidup di dalam Firman dan menjadi murid. Sejalan dengan Visi dan Misi gereja kita, Reach and Teach the generation for Christ. Penting bagi kita untuk hidup di dalam Firman dan menjadi murid. Bukan hidup kekristenan yang seperti ‘Join a Christian Club’, tapi yang benar-benar mau dilatih menjadi murid Kristus dengan ketaatan dan full commitment.
  3. Terimalah kebenaran. Know the truth. Menerima kebenaran Kristus di dalam hidup kita secara full dan non-selective. Tidak hanya menerima kebenaran yang ‘enak’ tapi juga menerima kebenaran yang kadang kala menurut kita ‘tidak enak’.

Dan seperti yang Yesus katakan, kita akan menerima kemerdekaan itu “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

BEBAS MERDEKA

Author – Sucipto Prakoso

Imagine

Bayangkan hidup di tengah padang pasir, di dalam tenda tenda, tanpa listrik, dan tanpa TV. Bayangkan kita lahir di tanah asing, dimana yang ada hanyalah padang pasir, kerja keras, dan chal  lenge challenge hidup lainnya. Pastinya hidup akan sangat susah. Jangankan mencari keran air, mencari sumber mata air saja susah. Apalagi jika kemudian kita harus berpindah-pindah tempat.

Inilah keadaan yang harus dialami oleh Abraham serta orang-orang yang mengikutinya. Mungkin setiap hari mereka harus menghadapi challenges yang ada di dalam kehidupan mereka bersama Tuhan. Mereka harus terus berpindah, mencari air,  menghindari sand storm yang biasanya sering terjadi di padang pasir, tanpa listrik, tanpa toilet dengan flush, dan tanpa TV.

Di dalam Kejadian 14:14 dikatakan bahwa ada 318 orang yang lahir di rumah Abraham. Sekali lagi, jangan bayangkan rumah jaman modern, rumah di jaman Abraham itu adalah tenda yang mungkin saja hanya berisi barang barang yang sangat mereka perlukan untuk survive di tengah-tengah keganasan padang pasir Timur Tengah.

Belum lagi ancaman dari orang-orang yang tinggal di sekitar mereka yang tidak suka dengan mereka. Kita baca sejenak dari Kisah ini

Kejadian 14:14  Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan.

Kejadian 14:15  Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik.

Kejadian 14:16  Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya.

Karena sadar bahwa hidup itu challenging, mereka tidak hanya perlu di“lahir”kan tapi juga perlu di”latih” atau training. Training untuk menghadapi keadaan di padang pasir, training tindakan darurat yang perlu dilakukan pada saat musuh menyerang, dan saya percaya sebagai orang yang lahir di rumah Abraham, mereka juga pasti akan di-training untuk mengenal Allah yang memanggil Abraham. Bayangakan berdoa dan beribadah bersama-sama dengan lebih dari 318 orang yang tinggal di rumahnya. Betapa dahsyatnya pada saat 318 orang berdoa bersama, mengakui bahwa hidup ini hanya bergantung kepada Tuhan saja. It must be so powerful and wonderful.

Dan karena karena ter”latih” inilah, mereka dapat mengalahkan musuh dan menyelamatkan Lot dan keluarnya. Tentunya mereka tidak akan dapat mengalahkan musuh kalau mereka hanya lahir, namun tidak ter”latih” bersama-sama dengan satu tujuan yaitu hidup dengan mengikuti kehendak Tuhan saja. Abraham tahu akan hal ini, karena itu ia melatih mereka.

Bagi saya dan semua dari kita yang sudah lahir di tengah-tengah convenience of the world, kita sangat tidak suka untuk hidup tanpa listrik, TV, air, dan sudah pasti tidak suka yang namanya pindah-pindah rumah. Kita telah lahir di dunia yang begitu memanjakan kita. Karena itu, kita cenderung untuk menjadi egois, menjadi so-called “independent”, dan lupa/tidak sadar bahwa sebenarnya dunia ini tidak terpisahkan dari challenge challenge yang ada dan yang akan ada. Kita lupa bahwa setiap dari kita ini perlu lahir dan dilatih di dalam Tuhan agar kita dapat melewati challenge challenge yang ada.

Kita suka berpikir untuk apa kita repot-repot di”latih”, karena toh dunia dan sekitar kita kelihatannya pasti mempunyai solusi untuk segalanya. Bahwa manusia seems to know the answer for “everything”, namun itulah kesombongan manusia yang menyebabkan kita lupa bahwa kita butuh Tuhan. Bahwa kita perlu di latih untuk kemuliaan nama Tuhan dan agar kita dapat mengalahkan “musuh-musuh” kita, Iblis dan dunia, yang selalu berusaha membawa kita menjauh dari Tuhan, sumber kehidupan.

Sangat menarik bahwa 318 orang itu tidak hanya “lahir”, tapi juga di”latih”. Banyak dari kita hanya mau “lahir” di dalam Tuhan, tapi tidak mau di”latih”, tidak mau dibentuk, dan bahkan memisahkan diri dari perkumpulan orang-orang percaya. Biarlah kita mau “lahir” di dalam Tuhan, biarlah kita mau di”latih” di tengah-tengah orang percaya, agar kita dapat menang atas challenge challenge yang ada dan yang akan ada.

Gereja kita ini, Repliqué , bertujuan tidak hanya agar kita “lahir” di dalam Tuhan, tapi juga me”latih” generasi ini di dalam Tuhan. Reach and Teach the generation for Christ. Tidak lama lagi akan ada Easter Camp, biarlah kita mau di”latih” bersama-sama di dalam retret ini di dalam Tuhan, agar kita beroleh kemenangan hanya di dalam Tuhan.

Author – Sucipto Prakoso

Motivation

“The secret of life is to have a task, something you devote your entire life to, something you bring everything to, every minute of the day for your whole life. And the most important thing is – it must be something you cannot possibly do.” Henry Moore

Motivation is the desire to do things. We often do things we do not desire. That is not motivation. If we get up early in the morning on a beautiful day, it is enjoyment. If get up early in the morning to earn a living, that is obligation. But if we get up early in the morning to chase a dream, that is motivation.

To get motivated we need a dream, a vision: be it a cause, an ideology or something we believe in – and that must be bigger than ourselves. As the quote above says: “it must be something you cannot possibly do.”

Motivation can be extrinsic or intrinsic.

Extrinsic motivation originates from without, from outside of us. We love being motivated, we flock to motivational seminars to listen to motivational speakers and get inspired. Our spirit is lifted high to a state of euphoric in a spur of moment. We crave reading motivational books, quotes of the day, inspirational articles just to get pepped up for a time.

There are tangible and intangible extrinsic motivation:

Tangible Extrinsic motivation: money, many forms of rewards, perks, scores, etc.

Intangible Extrinsic motivation: desire to get approval, fear of punishment, etc.

While in itself extrinsic motivation is stimulating, it cannot stand the test of time. It relies heavily on circumstances. In severe cases extrinsic motivation can become addiction, constant craving of stimulants like going to seminars, getting approval, love of money, etc.

Intrinsic motivation comes from within, from inner-self. It does not depend on circumstances, it sees beyond what can be seen, it goes deep within our souls, penetrates our very own beings. Basically intrinsic motivation is internalisation of extrinsic one, for example a child who lost a parent due to illness has the motivation to become a doctor. He sees the suffering, gets motivated by it and internalises the motivation to become his own.

Intrinsic motivation will move us to do things day in day out, in season or out of season, with reward or none, whether people approve or reject. This quiet persistent voice within keeps us moving forward step by step, inch by inch. Nothing dramatic, just steadfast nagging of the soul which refuses to be hushed.  It compels us to do something, something big, bigger than ourselves.

Extrinsic and intrinsic motivation can be good or bad. Getting approval from his peer motivates a teenager to do drugs, that is bad extrinsic motivation. A good score often motivates students to study hard, that is good extrinsic motivation. While extrinsic motivation does not penetrate deep within human soul, intrinsic one will get the job done. This job can be a blessing or a curse. Extremist like terrorist is one example of bad intrinsic motivation.

motivationOur motivation should come from the Lord Jesus Christ, who so loves the world that He dies for our sin, therefore we who believe will live eternally. This realisation of the redemption alone should motivate us enough to do His will. We need to internalise His love to us and to the lost world, thereby we will have this intrinsic motivation to do the task He assigned us on this earth. A motivation deeply rooted within our souls, which will stand the test of time, which will move us constantly regardless of events.

As Paul succinctly writes in the book of Acts chapter 20:24

“However, I consider my life worth nothing to me; my only aim is to finish the race and complete the task the Lord Jesus given me – the task of testifying to the good news of God’s grace”

May this too become our own motivation as we profess our love to Jesus Christ!

Author – Alicia Tani

Family

Begitu banyak arti dari ‘Family’ atau ‘Keluarga’ yang diinterpretasikan oleh banyak orang, tetapi arti yang paling common diantara semuanya adalah ayah+ibu+anak itulah yang disebut ‘Family’. Suka atau tidak suka setiap dari kita pasti bagian dari ‘Family’. Kita tidak bisa memilih apakah kita datang dari ‘Family’ yang kaya atau kurang kaya. Kadangkala kita suka berpikir ‘mengapa saya tidak lahir dari ‘Family’ itu?’ Kadangkala ‘Family’ kita sendiri bisa membuat kita senang atau sedih, kecewa atau bahagia. Begitu banyak perasaan yang bisa kita rasakan sebagai bagian dari ‘Family’.

familySebenarnya ada  ‘Family’ yang jauh lebih penting daripada ‘Family’ yang ada di dunia ini. Dengan menjadi bagian dari ‘Family’ ini setiap dari kita mempunyai hak istimewa untuk menjadi anak raja. Siapa yang tidak mau jadi anak raja? ‘Family’ inilah yang dikatakan oleh Paulus kepada jemaat di Efesus, ‘the whole ‘Family’ in heaven and earth’ Efesus 3:15;  – ‘Family’ didalam Tuhan.

Mengapa kita perlu untuk menjadi ‘Family’ of God? Banyak hal yang bisa kita boleh terima dengan menjadi bagian dari ‘Family’ of God karena ‘Family’ inilah yang kekal. Sampai pada akhirnya setiap dari ktia tidak akan merasakan tears, sorrow, sufferings and painful.

Mengapa kita disebut ‘Family’ of God?

  • Sebagai ‘Christian’ kita disebut ‘Family’ karena mempunyai satu Bapa. Setiap ‘Christian’ mempunyai iman yang sama didalam Tuhan Yesus dan dibaptis dalam Kristus (Galatia 3:26) dan memanggil satu nama yaitu ‘Abba Bapa’ (Roma 8:15). Inilah ‘‘Family’’ kepunyaan Tuhan.
  • ‘Christian’ disebut ‘Family’ karena memuji satu nama.Bayangkan begitu banyak terjemahan Alkitab di setiap bahasa dan dialek, semua itu hanya untuk satu tujuan yaitu untuk mengenal Tuhan. Sebagai anggota Kristus, setiap ‘Christian’ perlu untuk mempunyai satu hati dan pikiran, bersukacita dalam satu Juruselamat yaitu Yesus Kristus sendiri. Inilah ‘‘Family’’ kepunyaan Tuhan.
  • ‘Christian’ disebut ‘‘Family’’ karena ada begitu kuat kemiripan yang ada. Setiap ‘Christian’ sejati pasti akan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga membentuk karakter setiap individu. Setiap anggota dari ‘‘Family’’ ini membenci dosa, mempunyai satu keselamatan yang berasal dari Tuhan, berani untuk jadi beda dengan apa yang dunia tawarkan dan hidup di dalam kebenaran. Setiap dari kita pasti mempunyai perbedaan tetapi dari semua perbedaan yang ada hanya satu yang terpenting yaitu menjadi satu di dalam Tuhan. Inilah ‘‘Family’’ kepunyaan Tuhan.

Marilah setiap dari kita dapat menjadi bagian dari ‘‘Family’’ of God, tempat dimana kita menjadi belong to. Ingatlah tidak ada hal yang kekal diluar dari ‘‘Family’’ of God, tidak ada keselamatan melainkan kesia-siaan yang ada di dunia ini. Biarlah setiap dari kita mengakui Tuhan Yesus sebagai juruselamat dan menjadi bagian dari ‘The whole ‘Family’ in heaven and earth’.

Author – Vinny Bachtiar

Conquering Your Anger

Ketika diminta untuk menulis tentang “Menaklukkan Kemarahan”, yang terlintas di pikiran aku adalah “Bagaimana menulisnya? Sepertinya aku bukan orang yang sering marah” (oke…ada yang percaya??). Anyway, Tuhan Yesus pernah marah dalam Yohanes 2:15 ketika Bait Allah dijadikan tempat perdagangan, apalagi kita. Siapa yang belon pernah marah bisa segera menghubungi pastor lokal kita untuk merangkum buku dengan judul “Mencegah Kemarahan”. Namun apakah itu berarti kemarahan boleh ditoleransi? Beberapa artikel menulis bahwa kemarahan akan melahirkan kepahitan dan kepahitan akan merusak kehidupan anda dan orang-orang di sekitar anda dan hubungan anda dengan Tuhan.

Apakah kita diijinkan marah? Tentu saja. Tapi seringkali kita marah untuk alasan yang keliru. Kita perlu belajar dari contoh Tuhan Yesus marah di atas tadi, dan tentu saja penting untuk belajar memaafkan. Terlepas dari alasan kita marah, ada beberapa tips yang bisa jadi acuan untuk menaklukkan amarah anda. Di Efesus 4:26 Paulus menulis “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu”. Sebelum kemarahan mengambil alih emosi dan pikiran sehat kita, kita harus bisa mengontrol diri kita terlebih dahulu. Pukul bantal keras-keras, menangis sendiri di kamar, atau bahkan jogging untuk melampiaskan amarah, tapi yang paling penting jangan lupa berdoa. Kimberly Floyd menulis bahwa sesuai Yesaya 26:3 “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya”, Tuhan menjanjikan kedamaian jika kita datang kepada-Nya.

Setelah darah turun dari ubun-ubun kita bisa mencari tahu akar dari kemarahan kita. Biasanya, kita marah karena hal tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita harus jujur pada Tuhan, mengapa kita marah? Apakah karena orang lain berbeda pendapat dengan kita atau karena rencana Tuhan tidak sesuai dengan kemauan kita? Ketika kita marah pada Tuhan, kita harus berani mengakuinya dan kita harus minta ampun pada-Nya. Ingat bahwa Tuhan mengasihi kita (1 Yohanes 4:8) dan rencana-Nya indah bagi kita (Yeremia 29:11). Lalu, bagaimana kalau kita dongkolnya sama orang lain? Mendiskusikan permasalahan kita dengan orang yang kita dongkolin bisa jadi awal yang baik. Tapi, dengan sikap yang lembut (Amsal 15:1 “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah”). Kita bisa mengungkapkan perasaan kita, tetapi tidak menempatkan lawan bicara kita di posisi defensif. Fokus kita pada solusi dari permasalahan kita dan yang penting adalah memaafkan (Efesus 4:32 “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”).

Selamat mencoba dan jika punya tips-tips lain bisa juga dibagikan.

Author – Levi Sunaryo

Sepotong surat dari Charlie Chaplin untuk putrinya, Geraldine Chaplin

“Geraldine putriku, aku jauh darimu, namun sekejap pun wajahmu tidak pernah jauh dari benakku. Tapi kau dimana? Di Paris di atas panggung teater megah? Aku tahu ini bahwa dalam kehengingan malam, aku mendengar langkahmu. Aku mendengar peranmu di teater itu, kau tampil sebagai putri penguasa yang ditawan oleh bangsa Tartar.

Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah. Duduklah dan bacalah surat ini… aku adalah ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa. Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari mereka.

Geraldine putriku, kau tidak mengenalku dengan baik. Pada malam-malam saat jauh darimu aku menceritakan banyak kisah kepadamu namun aku tidak pernah mengungkapkan penderitaan dan kesedihanku. Ini juga kisah yang menarik. Cerita tentang seorang badut lapar yang menyanyi dan menerima sedekah di tempat terburuk di London. Ini adalah ceritaku. Aku telah merasakan kelaparan. Aku merasakan pedihnya kemiskinan. Yang lebih parah lagi, aku telah merasakan penderitaan dan kehinaan badut gelandangan itu yang menyimpan gelombang lautan kebanggaan dalam hatinya. Aku juga merasakan bahwa uang recehan sedekah pejalan kaki itu sama sekali tidak meruntuhkan harga dirinya. Meski demikian aku tetap hidup.

Geraldine putriku, dunia yang kau hidup di dalamnya adalah dunia seni dan musik. Tengah malam saat kau keluar dari gedung teater itu, lupakanlah para pemuja kaya itu. Tapi kepada sopir taksi yang mengantarmu pulang ke rumah, tanyakanlah keadaan istrinya. Jika dia tidak punya uang untuk membeli pakaian untuk anaknya, sisipkanlah uang di sakunya secara sembunyi-sembunyi.

Geraldine putriku, aku telah memerintahkan kepada wakilku di Paris untuk memberikan sejumlah uang untuk keperluanmu tanpa menanyakan kebutuhanmu. Namun bila engkau punya pengeluaran untuk orang lain, maka engkau harus mengirimkan bukti pembayarannya.

Geraldine putriku, sesekali naiklah bus dan kereta bawah tanah. Perhatikanlah masyarakat. Kenalilah para janda dan anak-anak yatim dan paling tidak untuk satu hari saja katakan: “Aku juga bagian dari mereka”. Pada hakikatnya kau benar-benar seperti mereka. Seni sebelum memberikan dua sayap kepada manusia untuk bisa terbang, ia akan mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu. Ketika kau merasa sudah berada di atas angin, saat itu juga tinggalkanlah teater dan pergilah ke pinggiran Paris dengan taksimu. Aku mengenal dengan baik wilayah itu. Di situ kau akan menyaksikan para seniman sepertimu. Mereka berakting lebih indah dan lebih menghayati daripada kamu. Bedanya di situ tidak akan kau temukan gemerlap lampu seperti di teatermu. Ketahuliah bahwa selalu ada orang yang berakting lebih baik darimu. Engkau juga perlu tahu bahwa tidak pernah ada salah satu anggota keluarga Chaplin yang begitu sombong mencerca seorang pengemis atau seorang senniman di sekitar Paris.

Geraldine putriku, aku mengirimkan cek ini untukmu, belanjakanlah sesuka hatimu. Namun ketika kau ingin membelanjakan dua franc, berpikirlah bahwa franc ketiga bukan milikmu. Itu adalah milik seorang miskin yang memerlukannya. Jika kau menghendakinya, kau dapat menemukan orang miskin itu dengan sangat mudah. Jika aku banyak berbicara kepadamu tentang uang, itu karena aku mengetahui kekuatan ‘anak setan’ ini dalam menipu…..

Aku tinggal lama di tempat sirkus, dan aku merasa khawatir setiap kali melihat para pemain akrobat yang bergantungan pada tali yang tipis dan bergetar. Namun putriku, aku harus mengucapkan sebuah realita padamu bahwa rakyat kokoh berdiri di atas bumi yang luas, tapi lebih banyak yang terjatuh ketimbang para pemain akrobat yang bergantungan di tali itu.

Geraldine, ini ayahmu tengah berbicara denganmu. Mungkin suatu malam gemerlap ada sebuah berlian paling mahal di dunia yang menipumu. Pada malam itu, berlian tersebut menjadi tali yang tidak kokoh di bawah kakimu dan kejatuhanmu sudah pasti terjadi… Suatu hari ketika seorang bangsawan tampan secara licik menipumu, agar engkau bermain dengan tali sirkus, maka perlu kau ketahui bahwa para pemain amatir tali sirkus bakal terjatuh.

Jangan tambatkan hatimu pada emas dan perhiasan lainnya. Berlian paling besar di dunia ini adalah matahari yang bersinar menyinari seluruh alam. Namun bila suatu hari engkau menambatkan hatimu kepada seorang pria yang punya hati bak mentari, satukan hatimu dengannya, cintailah ia dengan sunguh-sungguh dan apa yang engkau lakukan itu sebagai kewajiban. Dia lebih layak mendefinisikan cinta yang berarti satu hati, ketimbang aku…

Putriku, seorang wanita tidak layak menelanjangi dirinya karena seseorang dan sesuatu apa pun itu… Ketelanjangan adalah penyakit zaman kita. Menurut pendapatku, tubuhmu hanya menjadi milik seseorang yang rohnya telanjang untukmu.

Geraldine putriku, masih ada banyak hal yang akan aku ceritakan kepadamu, namun aku akan menceritakannya di kesempatan lain. Dan aku akhiri suratku ini dengan;
“Jadilah manusia, suci dan satu hati; karena lapar, menerima sedekah, dan mati dalam kemiskinan, seribukali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan”.”

(Dodi Putra Artawan, diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

Well, Charlie Chaplin memang menerima baptisan anak di gereja dan dibesarkan dengan latar belakang Kristen, tetapi secara tradisional dia tidak aktif dalam kehidupannya sebagai orang Kristen. Beberapa orang melihat bahwa Charlie Chaplin adalah seorang agnostic, singkatnya sebagai seorang atheis atau non-religius, dalam sebagian besar masa hidupnya. Bukan karena dia tidak memeluk agama berarti Charlie Chaplin seorang yang jahat dan keputusannya memeluk agama atau tidak merupakan hak pribadinya.

Matius 7:9-11 mengatakan “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Sekali lagi, bukan berarti Charlie Chaplin atau orang yang tidak beragama adalah orang jahat. Tetapi, kecenderungan manusia adalah berbuat jahat dan hidup dalam dosa. Charlie Chaplin, yang notabene manusia biasa dan hidup tidak mempercayai Allah Bapa bisa mengasihi putrinya sedemikian rupa dan tidak ingin Geraldine jatuh ke jalan yang keliru. Terlebih lagi Bapa sendiri yang menciptakan kita dan rela mengorbankan anak-Nya yang tunggal untuk kita semua.

Author – Levi Soenaryo