Nazar

Nazar, sebagian dari kita tidak tahu artinya, bahkan bertanya: ‘Apa iya itu sebuah kata?’ atau berkata: ‘Itu makanan atau mode terbaru ya!’ Sebagian lagi sok tahu akan artinya J

Ya, nazar memang kata yang tidak umum kita dengar, entah mungkin karena bukan bahasa gaul, atau juga karena sekarang ini memang nazar tidak ada atau tidak dikenal lagi. Tapi kita ingin belajar mengenai nazar.

Menurut KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA:

na·zar n janji (pd diri sendiri) hendak berbuat sesuatu jika maksud tercapai; kaul: ia mempunyai — , kalau anaknya lulus, ia akan mengadakan selamatan;
ber·na·zar v berjanji akan berbuat sesuatu jika maksud tercapai; mengucapkan nazar; mempunyai kaul: ia ~ , kalau anaknya sembuh, hendak bersedekah;
me·na·zar·kan v menjanjikan (dng nazar); menjadikan nazar (kaul)

Dari sisi Firman Tuhan, kata nazar berasal dari kata Ibrani (bahasa aslinya Perjanjian Lama) ‚nazir’ yang berarti: consecrate(d), devote(d), separate(d) (disendirikan, dipisahkan, dikuduskan). Jadi nazar adalah sesuatu yang dipisahkan dan dikhususkan buat Allah. Atau dengan sederhana nazar adalah sebuah janji yang sungguh-sungguh kepada Allah.

Ada sebuah kisah yang menarik didalam Alkitab yang berhubungan dengan nazar. Dalam kitab Kejadian 35:1, Allah berfirman kepada Yakub untuk pergi ke Bethel, dan mendirikan mezbah disana. Kenapa Bethel? Untuk mendapatkan jawabannya kita perlu kembali 22an tahun sebelumnya.

Saat itu Yakub sedang lari untuk menghindari kemarahan Esau kakaknya. Yakub telah mencuri berkat dari ayah mereka Ishak, yang dikhususkan untuk Esau sebagai anak sulung (Kejadian 27:1-46). Meninggalkan Bersyeba, Yakub berjalan menuju Haran tempat Laban, pamannya tinggal. Di tengah perjalanan, ia bermalam di suatu tempat, yang kemudian dinamai Bethel. Disana ia bermimpi. Ia melihat sebuah tangga dimana malaikat Allah turun dan naik antara surga dan bumi. Dan Tuhan berjanji untuk menyertai dia kemanapun dia pergi, dan akan membawa dia kembali dengan selamat (Kejadian 28:10-15).

Mimpi ini membuat Yakub bernazar untuk (Kejadian 28:16-22):

  1. Menjadikan Tuhan sebagai Allahnya
  2. Mendirikan rumah Allah
  3. Mempersembahkan sepersepuluh kepada Tuhan dari apa yang Ia berikan

Untuk 20 tahun kemudian, Yakub tinggal di Haran bersama Laban yang akhirnya menjadi mertuanya. Tuhanpun menepati janjinya, menyertai Yakub selalu, sehingga Yakub berhasil dalam segala yang dikerjakannya (Kejadian 29-30). Dan Tuhan menyelamatkan dia dari tangan Laban yang mengejar dia (Kejadian 31) dan Esau yang menyambutnya (Kejadian 32-33)

Saat dalam Kejadian 35, Yakub telah tinggal beberapa tahun di Kanaan. Dia tinggal di Sikhem tanpa ada maksud untuk kembali ke Bethel dimana Allah telah menampakkan diri kepadanya dan dimana dia membuat nazarnya. Kelihatannya Yakub telah lupa akan semuanya. Itu sebabnya Allah menyuruh dia kembali ke Bethel.

Apa yang dapat kita pelajari dari hal ini.

  1. Tuhan ingin kita menepati/memenuhi nazar kita. Dia tidak ingin kita bermain-main dengan nazar. ‘Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.’ (Pengkhotbah 5:3)
  2. Kita sering lupa akan nazar karena:
    1. Dibuat pada saat kita terjepit, misalnya saat terbang dengan pesawat dan mengalami turbulensi yang buruk atau kerusakan mesin
    2. Dibuat saat ada maunya, misalnya saat sedang menunggu visa PR keluar
  3. Kita juga sering lupa dengan nazar sebab semuanya sudah berjalan lancar. Seperti Yakub, yang sudah mempunyai keluarga yang bahagia dan harta yang banyak. Tetapi Tuhan dengan keras memperingatkan bangsa Israel untuk tidak lupa (Ulangan 8:11-20).
  4. Kita juga bisa lupa dengan nazar kalau kita membiarkan dunia mempengaruhi kita. Yakub membiarkan dewa-dewa asing ada didalam rumahnya. Itu sebabnya kita harus menjauhkan diri dari ‘dunia’.
  5. Kalau kita sampai lupa akan nazar kita, kita harus kembali ke ‘asalnya’. Yakub diperintahkan untuk kembali ke Bethel. Demikian juga jemaat di Efesus disuruh kembali kepada kasih yang mula-mula (Wahyu 2:4-5).
  6. Saat kita kembali ke ‘Bethel’ dan menepati nazar kita, maka berkat yang baru akan melimpah atas kita. Yakub diberikan nama baru dan Allah memperbaharui janjiNya.

Demikian juga dengan kita semua. Tuhan ingin kalau kita bernazar, kita harus menepatinya. Kita pasti pernah bernazar kepada Dia, entah bernazar memberikan sesuatu (uang, materi, waktu dsb.) kepada Dia, atau bernazar membaca/mempelajari FirmanNya, atau bernazar melayani Dia, dsb. Biarlah kita menepati semuanya.

Melihat keharusan/kewajiban yang ada, kadang kita berpikir, kalau begitu lebih baik tidak bernazar. Memang Alkitab memberitahu kita: ‘Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.’ (Pengkhotbah 5:4). Tetapi ketahuilah, saat kita bernazar dan menepatinya, maka berkatNya yang baru akan dilimpahkan kepada kita. Jadi yang terbaik adalah bernazar dan menepatinya.

Kalau hidup saudara sudah beberapa waktu begitu-begitu saja, inilah saatnya saudara membuat nazar, nazar yang baru. FirmanNya: ‘… dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.’ (Maleakhi 3:10)

Author – Pdt. Mindaja Tani

Big Change – Call for Unity

Saat-saat menjelang Paskah adalah saat-saat yang sangat critical bagi pelayanan Yesus selama Ia ada bersama dengan murid-muridNya. Dan kematian dan kebangkitan Yesus juga merupakan saat-saat yang critical bagi murid-muridNya. Saat-saat ini merupakan saat-saat dimana murid-muridNya harus mengalami a ‘Big Change’, mengalami perubahan yang besar di dalam kehidupan mereka masing-masing.

Selama Kristus ada di dunia bersama murid-muridNya, boleh dikatakan bahwa murid-muridNya selalu ‘aman’ karena Yesus berada di tengah-tengah mereka secara fisik. Kalau ada pertentangan atau ancaman dari orang-orang yang membenci Kristus, Kristus selalu ada untuk membela mereka. Kalau ada yang orang yang sakit, mereka juga mempunyai Kristus yang akan menyembuhkan mereka, dan kalau ada orang yang kerasukan roh jahat, ada Kristus yang akan mengusir roh jahat itu keluar. Kristus selalu ada bersama-sama mereka secara fisik.

Tapi hari-hari menjelang kematian dan kebangkitan Kristus, karena Kasih Kristus, Dia menyiapkan murid-muridNya for the ‘Biggest Change’ of their lives, bahwa Yesus, Guru dan Mesias mereka harus mati dan bangkit dan kemudian kembali kepada Bapa di surga. It is going to be a Huge Change untuk kehidupan para murid-muridNya. Yang tadinya Yesus selalu ada secara fisik, yang tadinya mereka tinggal ‘memanggil’ Yesus dan Yesus datang, sekarang akan berbeda, karena Yesus perlu kembali ke surga.

Karena itulah Yesus menyiapkan murid-muridNya di suatu malam hari menjelang kematianNya di kayu salib, Ia mendoakan mereka, dan salah satu inti dari doanya di dalam menyiapkan murid-muridNya di dalam mengantisipasi the ‘Big Change’ ini adalah Pray for Unity, Call for Unity. Yohanes 17:20-23

Yoh 17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;

Yoh 17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Yoh 17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

Yoh 17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Mengapa Call for Unity di dalam mengantisipasi the Big Change? Karena manusia memang tidak begitu suka akan perubahan, perubahan sering kali diikuti dengan ketidak nyamanan. Tidak jarang juga perubahan disertai atau didahului oleh pertentangan. Tanpa unity, Big Change tidak akan berjalan dengan baik. Sering kali di dalam suatu pemerintahan atau Negara, di mana akan ada pemilihan pemerintahan yang baru atau presiden baru, which is a Big Change, jika tidak disertai dengan Unity yang baik di dalam negara itu sering kali terjadi protes atau demo atau bahkan perang saudara, karena perubahan itu sering kali tidak enak.

Ulat pada waktu mengalami Big Change untuk menjadi kupu-kupu yang indah, harus juga mengalami a Big Change yang tidak enak. Ia harus menjadi kepompong, membungkus dirinya di dalam kepompong yang stuffy, dan kemudian ia harus merobek kulitnya sendiri agar dapat menjadi kupu-kupu yang indah. Merobek kulit sendiri bukanlah hal yang enak untuk dirasakan, it could be very painful.

Pelayanan kita sendiri pun akan mengalami Big Change, terutama di dalam pemindahan lokasi ‘base’ dari pelayanan Replique di Melbourne, yaitu berpindah dari Hawthorn ke City. Tuhan telah memanggil pelayanan kita untuk benar-benar melayani kota Melbourne, untuk menjadi berkat bagi kota Melbourne yang sangat membutuhkan Tuhan dan terang kasih Tuhan.

It is a Big Change and it may not be comfortable, karena itu Tuhan memanggil kita untuk bersatu, to unite. Unity bukanlah hal yang mudah untuk dicapai karena kita adalah manusia yang telah jatuh di dalam dosa, manusia yang seringkali egois, manusia yang sering kali mempunyai ‘agenda’ dan ‘maksud’ sendiri-sendiri.

Hanya satu yang dapat mempersatukan kita, yaitu “Kasih Kristus” – Yohanes17:22-23, hanya Kristus-lah yang dapat mempersatukan kita. Tidak ada satu pun di muka bumi yang dapat menyatukan manusia selain Kristus. Karena itu biarlah kita dapat bersatu di dalam mengantisipasikan the Big Change in our ministry.

Get Ready and Be Ready for the Big Change in Christ!

Author – Sucipto Prakoso

Guru – Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Dalam kehidupan kita, profesi seorang guru pastinya sudah tidak asing lagi. Sejak kecil kita masuk TK, kita sudah bertemu dengan seorang guru. Seorang guru mengajar, karena itu kita ‘belajar’ daripadanya. Tentu pekerjaan sang guru sedikit banyak akan mempengaruhi masa depan anak-anak didiknya. Sedikit untuk mereka yang tidak mau belajar dari sang guru dan banyak untuk sebaliknya.

Dalam bahasa aslinya, kata ‘Guru’, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti seseorang yang dipandang memiliki pengetahuan yang luas, kebijakan, dan pengaruh di suatu bidang tertentu, dan menggunakan semuanya itu untuk membimbing yang lain. Menurut definisi ini, bukankah akan sangat baik jika kita mendengarkan pengajaran dan didikan sang guru?

Kalian tentunya ingat, sewaktu kecil kita diajarkan bahwa guru menyandang gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Gelar ini sungguh memiliki makna yang dalam. Seorang guru mendidik dan menjadi contoh. Bahkan Dan Rather, seorang journalist terkenal, berkata bahwa cita-cita berawal dari seorang guru yang percaya kepada muridnya, yang kemudian mendorongnya, and membimbingnya kepada tahap selanjutnya, bahkan tidak segan-segan menghajar dengan tongkat yang disebut kebenaran.

Sayangnya memang belakangan image seorang guru dan gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ ini sudah kehilangan arti lantaran tingkah dan perilaku guru-guru yang tidak pantas. Fakta ini membuat orang kehilangan respect terhadap guru dan tidak jarang mereka memberontak dari didikan sang guru.

Namun menjadi sosok guru adalah apa yang dilakukan Tuhan kita selama Dia ada di dunia. Tuhan kita sendiri mengaku bahwa “Akulah Guru dan Tuhanmu” (Yoh 13:13) ketika Ia mengajar murid-muridNya untuk saling melayani dan memberi contoh dengan membasuh kaki mereka. Kepada Dia juga murid-muridNya datang dan belajar tentang doa dan tentang banyak hal. Bahkan dalam amanat agungNya Dia berkata untuk menjadikan semua bangsa sebagai muridNya. Dengan kata lain Dia ingin menjadi guru kita. Dia ingin kita belajar dariNya. Oleh sebab itu marilah kita mendengarkan hikmat sang Guru, mentaati pengajaranNya, dan tidak memberontak dari didikanNya.

Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatanNya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihiNya seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.

Amsal 3 : 11 – 12

Author – Yoanes Koesno

To Intervene Or To Ignore?

Siti yang baru berumur 16 tahun, hamil, diusir dari rumah orang tuanya, mencoba bunuh diri dengan memotong nadinya dengan potongan kaleng.

Amir yang berasal dari keluarga kaya, besar ditangan baby sitter karena orang tuanya sibuk, masuk rumah sakit karena drug-overdose.

Berita-berita seperti itu kita dengar setiap hari, baca setiap hari dan lihat dimana-mana. Dan kita berpikir: seandainya saja Siti punya teman-teman yang lebih baik, atau Amir orang tuanya lebih memperhatikan dia, mungkin hal-hal seperti ini ngga perlu terjadi.

Tapi sayangnya kita hidup di dunia yang Private: “Ini urusan pribadiku. Jangan ikut campur”. “Itu masalah pribadinya, gua ngga mau ikut-ikut”. Individualistic: “Kalau GUA suka, ya GUA lakukan. Ngga peduli dengan orang lain”. “Kalau DIA mau begitu, ya terserah, itu pilihan DIA”. Penuh dengan space: “Berikan dia space, stay away”. “Berikan aku space, jangan dekat-dekat, ngga terima nasihat”.

Kalau kita melihat saudara kita melakukan hal yang salah dan membahayakan hidupnya, masa depannya, kita ngga bisa diam saja dan menonton! Siti tidak tiba-tiba hamil. Hal itu dimulai jauh sebelumnya. Sejak dia berumur 13 tahun, dia mulai senang main mata dengan pria, umur 14 tahun nge-date dengan cowo-cowo, umur 15 tahun gonta-ganti pacar, back street pula! All the time tidak ada seorangpun yang berani intervene. Semua orang disekitarnya hanya stand back shaking their heads dan nge-gosip dibelakang.

Billy Graham, dalam bukunya “Just As I Am” menceritakan tentang putranya Franklin yang masih remaja dan pacaran diam-diam dilain kota. Karena nggak mempan di bilangin, dia tarik putranya pulang dan memutuskan dengan tegas hubungan yang dikatakan dalam bukunya ‘highly unsuitable’.

Dalam film ‘Hotel Rwanda’, diceritakan tentang suku Hutu yang mau membasmi suku Tutsi. Mula-mula PBB dan Perancis berusaha mencegah pembunuhan masal ini, tapi karena takut membahayakan diri sendiri didalam perang saudara, mereka satu demi satu angkat kaki. Satu hal yang dikatakan oleh suku Tutsi ini adalah: “Without intervention from international, we will be vanished”.

Kita semua membutuhkan intervention, rescuing. Tuhan kita adalah Tuhan yang intervene. Betapa bersyukurnya kita mempunyai Tuhan yang campur tangan, bukan tuhan yang acuh tak acuh dan membiarkan kita mati didalam dosa dan kejahatan kita. Coba bayangkan kalau Dia seperti dunia ini, takut menegur, tidak mau involve, stand back aloof, apa jadinya kita? Kita semua pasti binasa, karena tidak ada seorangpun, pada saat hidup dalam dosa, bisa datang kepada Allah oleh kehendaknya sendiri! Dialah yang datang pada kita pada saat kita masih hidup dalam dosa (Roma 5:10).

Semua orang bisa bertobat oleh karena jamahan Tuhan, oleh karena kuasa Roh Kudus yang menerangi hatinya. Memang kita perlu meresponi, otherwise kita akan tetap tinggal dalam dosa. Tetapi Tuhanlah yang pertama bertindak, Dia intervene, Dia ikut campur dalam hidup kita, Dia jamah kita. Dan orang yang sudah mengalami jamahan Tuhan tidak akan mungkin stay the same! This is the greatest intervention of all: pada saat Yesus turun ke dunia ini dan mati di kayu salib untuk menebus dosa kita, walaupun Dia ditolak dan dibenci. Dia tetap lakukan karya keselamatan-Nya, karena Dia tahu tanpa itu manusia akan hilang selamanya.

Karena itu Dia perintahkan kita untuk intervene dalam hidup satu sama lain, saling menegur dan mengingatkan supaya kita boleh selamat menjelang hari Tuhan: “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik…, marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:24-25).

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim 4:2).

So, intervene in each other’s life, involve, don’t stand back looking at your brother/sister go down the drain! Walaupun harga yang dibayar sangat mahal, kita dibenci, ditolak, dijauhi dan bahkan difitnah, tapi jiwa saudara kita jauh lebih berharga dari pada temporary discomfort yang kita harus tanggung. Peranan kita didalam keluarga Allah bukanlah untuk saling memberikan kesenangan sementara, tapi untuk saling menjaga keselamatan jiwa satu dengan yang lainnya, supaya kita semua beroleh selamat pada saat Tuhan datang kembali. To Him be the glory!

Author – Alicia Tani

Vindication – Always Bitter Sweet

Ikut Tuhan dan melakukan kehendakNya- sesuatu yang mudah dikatakan, tapi tidak gampang dilakukan. Tahun-tahun pertama kami, saya dan suami, ikut Tuhan dan melayani Dia dipenuhi dengan konflik, terutama dengan orang tua, sanak keluarga dan teman-teman. Karena mereka tidak melihat apa yang kami lihat.

Setelah 20 tahun, tantangan yang ada malah semakin besar, karena sekarang datang dari sesama orang Kristen, dan bahkan mereka yang dekat. Seringkali Tuhan membukakan hal-hal pada kita yang Dia tidak bukakan pada orang lain. Ini menjadi sumber kesalahpahaman, fitnah dan bahkan pengkhianatan.

Pada saat-saat seperti demikian, apa yang kita rindukan? Vindication. Pembeneran. Pembenaran dari Tuhan. Daud merindukan pembelaan dari Tuhan pada saat dia dikejar-kejar musuh, di fitnah dan mau dibunuh oleh Saul, hanya karena dia melakukan kehendak Tuhan. Sekitar seperempat dari mazmur berisi permohonan Daud untuk pembelaan Tuhan.

Saat kita disakiti, kita sering membayangkan, betapa indahnya pembelaan Tuhan dan bagaimana kita akan memuliakan Dia saat hal itu terjadi. Dua alesan kenapa Daud merindukan pembelaan Tuhan: 1. Karena Saul menyebarkan fitnah tentang dia, 2. Karena dia ingin pengakuan orang Israel atas apa yang Tuhan berikan kepadanya (Daud diurapi sebagai raja).

Seringkali pembelaan dari Tuhan datang secara bertahap. Tahap pertama, kita menyadari bahwa Tuhan membela kita, tapi kemudian ternyata belum secara total. Daud memang akhirnya diakui sebagai raja, tapi hanya atas Yehuda. Kalau dilihat sekilas, itulah pemenuhan rencana Tuhan, tapi sebetulnya baru sebagian. Bahkan 7 tahun berlalu sampai akhirnya seluruh Israel mengakui dia sebagai raja (2sam 3:6-21).

Tidak mudah untuk menunggu vindication. Mungkin saudara difitnah, di tempat kerja, di sekolah atau bahkan di gereja. Disalah mengerti, ditinggalkan, dijauhi, for the reasons you never know. Tuhan berjanji untuk membelamu, tapi bagaimana kalau vindication itu datangnya setelah bertahun-tahun?

2 alasan mengapa vindication is bitter sweet:

Pertama, Kita harus menunggu. Saat kita disakiti, kita ingin Tuhan segera membela kita. Kita menjadi terobsesi untuk membuktikan kita yang benar, untuk membersihkan nama kita yang difitnah. Tapi justru pada saat seperti itu Tuhan tidak akan bekerja. We must wait for vindication long enough for other things to become more important. Saat kita put all things into perspective kita akan melihat ada banyak yang  jauh lebih penting yang harus kita lakukan daripada memikirkan sakit hati kita. Saat itulah Tuhan biasanya membela kita. Tapi berhubung kita sudah tidak memikirkannya, vindication itu tidak semanis yang kita kira. Kita terhindar menjadi orang yang vindictive!

Demikianpun, saat orang-orang terdekat tidak setuju dengan apa yang kami lakukan dan banyak orang lain menyebarkan fitnah, kami tetap konsentrasi pada apa yang Tuhan tetapkan untuk kami kerjakan. Banyak yang akhirnya mengakui kebenaran panggilan Tuhan dalam hidup kami, tapi pengakuan itu tidak lagi menjadi masalah penting, karena apa yang Tuhan berikan untuk dikerjakan menjadi hal yang terpenting mengatasi His vindication!

Kedua, mengapa vindication is bitter sweet, seringkali orang yang menyakiti kita berada di pihak yang dipermalukan, tetapi kejatuhan mereka menyedihkan kita. Pembelaan Tuhan terhadap Daud costs him his son, Absalom, yang akhirnya mati terbunuh dalam pemberontakannya. Tuhan adalah Allah yang adil, yang membalaskan kepada semua orang sesuai dengan perbuatannya masing-masing. Pembalasan adalah haknya DIa. Biarlah kita tidak mengambil haknya Tuhan ini dengan membalas orang yang menyakiti kita atau dengan berusaha ‘membersihkan’ nama kita dan ‘memfitnah balik’ mereka yang memfitnah kita.

Satu hal yang perlu diingat: memang Tuhan membalas orang sesuai dengan perbuatan mereka masing-masing. Tapi di atas kayu salib Dia sudah menanggung segala kutuk, supaya mereka yang menerima Dia tidak lagi hidup dibawah kutu/hukumanNya. Jikalau kita ada dipihak yang sudah menyakiti orang lain, yang pertama harus kita lakukan adalah minta ampun kepada Tuhan dan Dia akan mengakat segala hukuman yang seharusnya kita tanggung.

And that’s the greatest news of all!

Author – Alicia Tani

Refresh my heart, Oh GOD

1 Raja-raja 19: 1-8

Di dalam dunia yang modern ini, secara tidak sadar banyak hal dikehidupan yang selalu menuntut kita. Dengan perkembangan jaman, berkembang pula tuntutan-tuntutan di dalam kehidupan kita. Baik itu sekolah, hubungan social, karir, hubungan keluarga dan juga pergerakan kerajaan Tuhan. Ketekukan dan kerja keras merupakan asset yang sangat baik, namun kita harus dapat menjaga diri. Jangan kita sampai “burn out”, sehingga kehidupan kita tak bisa menjadi saluran berkat Tuhan lagi.

Dalam kitab 1 Raja-raja 19;1-8 kita temukan kehidupan Elia yang sedang mengalami keadaan terburuk. Padahal mujizat-mujizat yang diberikan Tuhan melalui Elia sangatlah luar biasa, peristiwa Elia di sungai kerit (1 Raja-raja 17:1-6), peristiwa bersama janda di Safrat (1raja-raja 17:7), pertempuran rohani dengan nabi baal di gunung karmel (1Raja-raja 18). Ditengah luar biasanya berkat serta hadirat Tuhan di kehidupan Elia, ia mengalami keletihan rohani sehingga dia “burn out”.

Merupakan hal yang normal bagi seseorang untuk merasa letih, karena tubuh dan jiwa kita memanng bukannya tanpa batas. Kelelahan fisik kita dapat dipulihkan dengan istirahat dan makan-makanan yang sehat. Masalah yang lebih besar adalah jika kita letih secara emosi dan rohani atu “burn out”. Justru letih emosi dan rohani ini yang  sering mempengaruhi keletihan fisik kita sehingga walaupun kita mempunyai fisik yang tidak letih, kita tetap merasa lesu jika kita “burn out”.

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kitab 1Raja-raja ini untuk menanggulangi keletihan emosi dan roh.

Pertama, jangan melarikan diri dari jalan Tuhan. Jelas sekali kita pelajari dari sikap Elia di ayat 3, dia melarikan diri dari jalan yang telah diberikan Tuhan. Jangan kita jalan dijalan yang bertentangan dengan Tuhan. Jika kita berdosa, jangan pelihara dosa it uterus-menerus. Pada waktu kita berdosa, berkat rohani dari Tuhan akan terhenti. Lama kelamaan emosi kta pun akan letih dan ini akan mempengaruhi keadaan fisik kita. Kita tidak akan dapat menemukan kebahagiaan dan semangat dari hidup. Langkah ini sangat penting bagi kita, yaitu kita harus kembali dan bertobat dari pelanggaran (dosa) untuk dapat dipulihkan.

Kedua, untuk tidak mudah “burn out” kita harus belajar lebih percaya dan lebih berserah kepada Tuhan. Dalam ayat 1-3 kita temukan bahwa Elia takut dengan ancaman Izebel dan dia melarikan diri. Elia yang telah melihat kemuliaan Tuhan yang luar biasa bisa merasa takut dan dia tergeletak di padang gurun.”burn out” baik secara fisik maupun spiritual. Jika Elia tetap tinggal dan percaya pada Tuhan, dapat dipastikan dia akan melihat mujizat Tuhan lebih lanjut. Sering jika kita dihadapi masalah yang besar, kita tak ingat lagi bahwa kita punya Tuhan yang lebih besar. Kita terlalu terkonsentrasi pada masalah yang kita hadapi sampai masalah-masalah itu menguasai kita. Dalam keadaan begini tidaklah heran kalau emosi dan rohani kita menjadi letih. Jika kita percaya kepada Tuhan, kita tahu bahwa Tuhan berada di pihak kita dan Tuhan akan menunjukan mujizatNya pada kita. Fisik boleh letih tapi jika harapan kita tertuju pada Tuhan semangat kita akan terbangun. Rasa percaya kita akan DIa akan memberikan energy pada jiwa dan tubuh kita.

Ketiga, janganlah kita tertidur. Waktu kita letih, istirahat memang obat yang baik, tapi jangan sampai hati kita menjadi dingin terhadap keadaan sekitar kita. Elia tertidur walau umat Israel masih belum dibebaskan dari kuasa Izebel dan berhala baal. Merupakan hal yang normal bagi kita untuk istirahat, namun jangan sampai istirahat ini menguasai kita sampai kita tak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Jika kita ambil istirahat dengan melakukan hobby kita, itu adalah hal yang baik., namun jangan sampai hobby tersebut membuat kita lupa akan tugas pelayanan. Justru dalam keadaan tertidur (menjauhi pelayanan) ini maka kita menajadi sasaran iblis. Istirahat yang terbaik adalah jika kita pakai waktu untuk mencari Tuhan karena Dia akan memulihkan kita.

Keempat, jangan lupa makan makanan yang disodorakan Tuhan. Tuhan tak ingin anak-anakNya dalam keadaan lesu sehingga anak-anakNya jadi bahan tertawaan iblis. Maka jika kita dalam keadaan lemah, Tuhan pasti menyiapkan roti bagi kita. Tapi seperti Elia, seringkali kita memilih untuk bersungut-sungut mengenai keadaan yang kita hadapi (ayat 4b) dan memutuskan untuk tidur dan tak berbicara pada Tuhan lagi. Namun Tuhan memang baik sekali, Dia membangunkan Elia sampai 2x dan Tuhan member dia roti. Jika kita merasa kita dalam keadaan yang paling buruk dalam hidup kita, ingatlah bahwa Tuhan tak pernah melupakan kita, dan DIa punya rencana special bagi kita. Sering Dia membangunkan kita dengan banyak cara, dari renungan kita, dari nasehat-nasehat saudara seiman kita, dan banyak cara lainnya. Jika kita dibangunkan dan diberi roti (baik itu nasehat, tegoran, firman) jangan kita menolaknya. Kita harus ambil, makan dan cerna di dalam duru kita walau kadang tegoran itu terasa pahit dan tak enak, namun itulah obat yang manjur untuk keletihan kita.

Terakhir, jangan berdiam diri namun carilah Tuhan dan raihlah pemulihan. Setelah Elia menerima roti dalam ayat 8 dia bangun dan berjalan ke Gunung Tuhan, gunung Horeb. Jika kita telah disodorkan roti yang akan member kekuatan bagi kita. Jangan stop disana, cari Tuhan terus dikehidupan kita. Elia pergi ke gunung Horeb mencari Tuhan, kita juga harus terus mengejar Tuhan. Jangan berhenti di dalam saat teduh kita sebelum kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan, disanalah kita raih pemulihan.

Pelayanan kita ini berada dalam decade kebangkitan yang besar. Mujizat-mujizat dan tangan Tuhan akan bekerja melalui pelayanan kita dan juga melalui kita. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk selalu dalam kondisi prima kerena saya percaya bahwa iblis tak suka dengan keadaan ini dan dia akan selalu menyerang kita. Pakailah 5 pelajaran yang dipetik dari Elia, berhentilah dari dosa, percayalah pada Dia, jangan tidur, jangan tolak roti dari Tuhan dan carilah Tuhan maka kita akan memperoleh dan mempertahankan kesegaran rohani kita.

Author – Lukman Setiawan

Rendah Hati Vs. Rendah Diri

Seringkali kita mencampur baur rendah hati dengan rendah diri, sehingga kita tidak yakin dengan tingkah-laku kita. Kita takut mengutarakan pendapat, takut kelihatan beda dengan teman-teman, takut ini, takut itu, karena takut kelihatan sombong.  Bahkan kita takut menyampaikan Injil, karena koq kedengarannya sombong sekali mengatakan keselamatan itu hanya melalui Yesus!

Tanda-tanda diatas itu bukanlah tanda-tanda rendah hati, tapi rendah diri. Rendah diri berfokus pada diri sendiri, bertindak berdasarkan approval orang lain dan bukan berdasarkan conviction, sehingga tindakannya selalu berubah-ubah, selalu tidak yakin dan mempunyai pandangan yang negative terhadap diri sendiri, maupun terhadap orang lain.

Jadi, apakah rendah hati yang sebenarnya? Ada lima hal yang berbicara tentang kerendahan hati:

 

  1. Kerendahan hati dimulai dengan tunduk pada Tuhan.

“Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya” (Mat. 10:24). “Karena itu rendahkanlah dirimu dibawah tangan Tuhan yang kuat, …(1 Pet.5 :6).

Fakta: Tuhan diatas. Kita dibawah. Dia pencipta. Kita ciptaan. Membuka tali kasutNyapun kita tidak layak. Perbedaan antara Tuhan dengan kita adalah tak terbatas. KemuliaanNya, kebesaranNya, kuasaNya, hikmatNya, keadilanNya, kebenaranNYa, kekudusanNya, belas kasihan dan kemurahanNya adalah jauh tinggi diatas kita sejauh langit dan bumi.

Disamping mengetahui fakta tsb dengan otak kita, kita perlu merasakannya di dalam hati kita.  Apakah kesadaran akan siapa Tuhan dan siapa kita membuat kita rendah hati dan tunduk padaNya? Atau kita malah menjadi sombong karena merasa mengetahui hal tersebut? Betapa sulit mendeteksi kesombongan diri sendiri!

 

  1. Kerendahan hati mengetahui, bahwa kita tidak berhak mendapat perlakuan lebih baik daripada perlakuan yang Yesus dapatkan dalam dunia ini.

“Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Mat. 10:25).

“Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya…ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil” (1 Pet. 2:21-23).

Kerendahan hati tidaklah membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak membangun hidupnya diatas ‘hak-hak’ yang dianggap dimilikinya, melainkan rela melepas ‘hak-hak’ ini demi kepentingan orang lain. Seperti Yesus yang rela melepas hakNya sebagai Raja diatas raja untuk datang sebagai manusia kedalam dunia ini demi menyelamatkan orang yang berdosa.

Begitu banyak sengketa dan kemarahan timbul karena kita merasa berhak menerima perlakukan yang lebih baik. George Otis mengatakan, “Jesus never promised His disciples a fair fight.” Kita perlu mengantisipasi perlakuan yang buruk dan tidak menjadi pahit karenanya.  Inilah kerendahan hati. Roma 12:19 memberikan kita kekuatan untuk memikul tugas yang berat ini dengan mengingatkan kita bahwa Tuhan akan memperhitungkan segala hal dan ketidak adilan tidak akan dibiarkanNya.  Kita tidak perlu membela diri kita sendiri. Biarlah Tuhan yang membela kita.

 

  1. Kerendahan hati menyampaikan kebenaran bukan untuk memuaskan ego kita, tapi sebagai pelayanan kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.

“Kasih…bersukacita karena kebenaran” (1 Kor. 13:6). “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang…Jangan takut” (Mat. 10:27-28). “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2 Kor 4:5).

Seringkali kita dituduh arogan kalau menyampaikan kebenaran. Sehingga kita mulai mengadakan kompromi dengan berbagai macam alasan dan akhirnya kehilangan conviction kita didalam Tuhan. Padahal kerendahan hati adalah menyampaikan kebenaran dengan setia berdasarkan kasih terhadap sesama dan pelayanan kepada Tuhan, apapun yang orang katakan.

 

  1. Kerendahan hati adalah kesadaran bahwa segala yang ada pada kita adalah semata-mata karena kasih karunia Allah.

“Dan apakah yang engkau punyai, yang engkau tidak terima?” (1 Kor 4:7)

Segala sesuatu yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan, supaya bisa kita gunakan untuk memberkati orang lain, sehingga nama Tuhan dimuliakan. Baik kepandaian, harta benda, kebijaksanaan, rupa yang baik, pelayanan, waktu, bakat, etc, semua adalah pemberian Tuhan. Kita datang ke dunia ini dengan telanjang, dan dengan telanjang pula kita akan tinggalkan.

Semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan yang dipinjamkan untuk sementara waktu supaya kita manage sesuai dengan pimpinanNya, untuk menghasilkan jiwa. Sikap hati seperti ini adalah kerendahan hati.

 

  1. Kerendahan hati bukan saja bersedia menerima nasihat dan belajar daripadanya, tapi juga memiliki rasa takut akan Tuhan dan Dia memanggil kita untuk meyakinkan orang.

“…siapa yang mendengarkan nasihat, ia bijak” (Amsal 12:15). “Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang” (2 Kor .5:11).

Kita tidak tahu segala sesuatu. Apa yang kita ketahuipun, tidaklah lengkap. Tapi Tuhan sudah berkenan menyatakan diriNya melalui Kristus dan melalui FirmanNya. Dia ingin supaya kita merendahkan diri kita berdasarkan apa yang Dia sudah nyatakan, dan berpegang teguh pada FirmanNya.

Kerendahan hati bukanlah sesuatu yang bisa kita capai dengan kekuatan sendiri, sehingga kita tidak bisa me’nyombong’kan diri sebagai orang yang sudah berhasil mencapai kerendahan hati. Kerendahan hati adalah gift yang menerima segala sesuatu sebagai gift. Sebagai buah Injil, mengetahui dan merasakan bahwa kita adalah orang berdosa dan bahwa Kristus adalah Juruselamat kita.

So, for the sake of the Truth, and for the glory of God in the world, don’t confuse timid uncertainty with truthful humility!

Author – Alicia Tani

Suffering

Penyanderaan di Beslan, memakan korban ratusan jiwa, kebanyakan anak-anak…

Pemboman di depan kedubes Australia di Jakarta, seorang anak kecil sekarat…

Pembunuhan sandera-sandera di Irak…

Hurricane di Florida, Cuba…meninggal…menderita…

Kelaparan di Sudan…korban…

Meninggalnya orang-orang yang kita kasihi…

Hari-hari di bulan September lalu penuh dengan berita buruk. Malapetaka dan bencana alam dimana-mana. Korban berjatuhan, baik luka ringan, berat, maupun meninggal. Penderitaan sakit gigi saya yang tadinya terasa demikian besar menjadi tak berarti dibanding dengan apa yang mereka alami.

Mengapa penderitaan harus terjadi di dunia ini? Bahkan, mengapa yang menjadi korban justru mereka yang lemah seperti anak-anak dan rakyat jelata? Seperti Friedrich Nietzsche katakana: “It is not so much the suffering as the senselessness of it that is unendurable.” Respon pertama kita saat mendengar sebuah tragedi adalah: “Kenapa?” Kita  piker kalau kita bisa menemukan jawabannya, penderitaan itu akan lebih tertanggungkan.

Tapi sayangnya tidak ada yang tahu jawabannya. Orang hanya bisa menduga. Dua dugaan yang salah adalah:

  1. Penderitaan berasal dari Tuhan untuk menguji kita. Ini kelihatannya benar, tapi sebenarnya tidak benar. Tuhan tidak pernah merancang penderitaan bagi manusia. Yeremia 29:11 berkata: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Jadi jelas penderitaan, kecelakaan, malapetaka, dan sakit penyakit bukanlak berasal dari Dia.
  2. Penderitaan adalah hukum Tuhan atas dosa manusia. Didalam Perjanjian Lama kita melihat Tuhan banyak kali menghukum bangsa Israel. Tapi kalau kita perhatikan, sebelum menghukum Dia selalu memberikan peringatan dan terguran berkali-kali. Saat hukuman terjadi, orang yang bersangkutan selalu tahu apa sebabnya dan apa kesalahannya. Hukuman Tuhan tidaklah ‘senseless’. Apalagi setelah Tuhan Yesus menebus dosa kita, kalau kita percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat, hukuman tidak lagi menimpa kita.

Penderitaan yang terjadi di dalam dunia ini adalah dikarenakan dosa yang masuk ke dalam dunia melalui kejatuhan Adam dan Hawa. Penderitaan ada karena dosa, dosa manusia. Manusia menjadi dikuasai oleh berbagai-bagai keingina jahat dan merusak. Karena keserakahan manusia likunganpun banyak dirusak, sehingga terjadi macam-macam bencana alam.

Penderitaan juga bisa berasal dari jahat. Iblis dengan segala tipu dayanya merancang segala sesuatu yang jahat untuk merusak hidup manusia.

Tanpa mengecilkan arti penderitaan dan perasaan orang-orang yang mengalaminya, saya melihat ada hal-hal positif yang terjadi melalui hal ini:

  • Penderitaan menyadarkan manusia akan kefanaanya atau keterbatasannya dan membuat orang mencari sesuatu diluar dirinya sendiri. Mereka menjadi lebih terbuka terhadap Injil.
  • Mereka yang menderita lebih menghargai manusia daripada hal-hal materi yang tidak bisa menolongnya.
  • Mereka yang menderita tidak lagi menganggap dirinya hebat. Penderitaan membuat orang rendah hati.
  • Orang yang sudah mengalami penderitaan tidak lagi senang bersaing, tapi lebih gampang diajak bekerja sama.
  • Penderitaan melatih kesabaran.

Seorang teman saya yang mengalami kanker payudara sepuluh tahun yang lalu menjadi seorang yang sungguh rendah hati, senang berdoa untuk orang lain dan jarang membicarakan tentang dirinya sendiri. Beberapa bulan yang lalu kanker tersebut kembali dan menyebar ke bagian-bagian tubuhnya yang lain. Tapi satu hal yang dia katakan yang sungguh menyentuh hati saya adalah: “yang terpenting dalam hidup ini adlah hubungan saya dengan Tuhan Yesus, karena itulah yang last forever. All other things are just shadows passing by…”

Jikalau saat ini kita belum pernah mengalami penderitaan, bagaimanakah respon kita dalam menanggapi penderitaan di sekitar kita? Apakah kita punya sikap: ‘Yang penting gua selamat’? Atau kita bersaksi tentang kasih Tuhan yang begitu besar terhadap kita sehingga kita terhindar dari bom di Kedubes, padahal kita hampir saja pergi kesana hari itu? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kena bom dan meninggal, apakah Tuhan tidak cinta mereka?

Biarlah kita belajar untuk lebih sensitif didalam meresponi penderitaan yang terjadi didalam dunia ini. Memang kita perlu menghargai apa yang ada pada kita, apa yang Tuhan berikan kepada kita: hidup, kesehatan, keselamatan, pakaian, makanan. Kita perlu mensyukuri semua itu. Tapi Alkitab katakan di dalam Roma 12:15: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

Author – Alicia Tani

What about Fairness?

Matius 20:1-19

Pada tahun 2004, Shannon Noll, runner up dari Australian Idol I, melepaskan album pedananya yang langsung menjadi hit besar di Australia. Lagu yang berjudul “WHAT ABOUT ME?” inipun menjadi salah satu ‘shower song’ favourite banyak orang. Berikut cuplikan lyric-nya.

Well there’s a little boy waiting at the counter of the corner shop.

He’s been waiting down there, waiting half the day, they never see him from the top.

He gets pushed around, knocked to the ground. He gets to his feet and he says…

Apa next line dari lagu ini?

“WHAT ABOUT ME?

IT ISN’T FAIR,

I’ve had enough, now I want my share can’t you see, ….

WHAT ABOUT ME?”

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang marah karena hidup nya tidak fair/adil. Besar kemungkinannya kalau lagu ini menjadi top hit karena banyak orang yang merasa bahwa hidup ini tidak adil.

Kalau kita baca di berita, setiap hari orang diseluruh dunia banyak yang protes mengenai ketidakadilan pemerintah baik Melbourne, Jakarta, ataupun di negara lainnya. Faktanya adalah banyak sekali orang yang merasa tidak puas dengan keadilan dunia ini. Manusia benar-benar makhluk yang gampang sekali cemburu. Kita merasa tidak adil ketika teman kita yang malas mendapat nilai yang bagus, atau saudara yang lebih sukses dalam hidup, orang lain terlihat lebih bahagia, dan sebagainya.

Dalam Matius 20:1-19, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Sorga yang diberitakan kepada dunia. Diakhir pasal ke 19, Yesus mengatakan sesuatu yang membingungkan banyak pendengarnya, “tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu”. (Matius 19:30) oleh sebab itu Yesus mengajarkan lebih lanjut dalam sebuah perumpamaan.

Perumpamaan ini dumulai dengan seorang tuan yang mencari perkerja kebun anggur dan dia menemukan sekelompok orang untuk beerja dalam kebun anggurnya mulai ini hari (sekitar jam 6 pagi), dan mereka setuju diupah 1 dinar. Pada zaman itu 1 hari kerja adalah 12 jam. Dalam ayat 3-5, tuan rumah ini keluar dan mengundang orang lagi pada pukul 9 pagi, pukul 12 siang dan pukul 3 siang. Kalau kita simak di ayat ke 4 tuan ini menawarkan upah “pantas” bagi semua orang, namun mereka tidak diberi tahu berapa jumlahnya. Dan untuk terakhir kalinya pada pukul 5 sore, tuan ini pun mengundang sekelompok orang lagi.

Pada ayat 8, tuan rumah ini mengundang kelompok orang yang masuk terakhir untuk menerima upah mereka terlebih dahulu. Mereka mendapat 1 dinar, upah 12 jam berkerja  untuk pekerjaan 1 jam. Pasti orang-orang selanjutnya yang menunggu untuk menerima upah merasa senang. Mungkin dalam pikiran mereka “WOW mereka bekerja 1 jam saja dapat 1 dinar, saya yang  bekerja 12 jam pasti setidaknya mendapat 12 dinar”. Namun yang mengejutkan adalah, mereka mendapat 1 dinar juga. Dapat dibayangkan betapa pekerja ini mulai bersungut-sungut. “Aku udah bekerja 12 jam mereka cuma bekerja 1 jam, aku lebih cape, lebih menderita, seharusnya aku berhak mendapat lebih”. Seperti lagu Shannon Noll diatas, “WHAT ABOUT ME? IT ISN’T FAIR, NOW I WANT MY SHARE!!”

Banyak  dari kita yang sering merasa tidak puas dan tidak merasa tidak adil. Kita merasa bahwa orang lain lebih diberkati, kita tidak puas karena tidak memperoleh kesempatan seperti sesame kita. Kita mulai berteriak pada Tuhan, INI TIDAK ADIL! I DESERVE BETTER!

Kita tidak mengerti apakah itu keadilan di hadapan Tuhan dan kita berusaha mengukur keadilan tuhan dengan keadilan manusia yang sangat sempit dan terbatas. Pada ayat 13-15, tuan ini menjawab protes para pekerjanya bahwa dia berlaku adil karena persetujuan mereka untuk bekerja dengan upah 1 dinar. Bagi pemilik ini bukan masalah ADIL namun ini mengenai kemurahan hatinya. Kemurahan hati adalah member bagi mereka yang tidak layak mendapat, mereka yang jika tidak dipekerjakan akan menganggur. Kemurahan itu bukan keadilan dan tidak bisa diukur dengan keadilan. Kemurahan/Generosity selalu tertuju pada orang yang tidak layak memperolehnya.

Perumpamaan ini mengajarkan kita bahwa dalam Kerajaan Sorga, kita semua memperoleh kemurahan Tuhan yang tidak layak untuk kita terima. Kita ini seperti pekerja yang hanya bekerja 1 jam namun memperoleh kelimpahan. Jika kita terus bersungut-sungut kepada tuan dan tak puas dengan orang lain, kita ini sama dengan orang yang bersungut-sungut kepada tuan dengan meminta apa yang layak kita dapatkan. Namun apakah yang layak kita dapatkan? Alkitab tak pernah lebih jelas mengenai apa  yang layak kita dapatkan. Kita orang berdosa LAYAK ditolak Tuhan, LAYAK untuk mati (Roma 6:23), LAYAK untuk dihukum. Namun karena salib Kristus kita semua menerima kemurahan Tuhan. Tuhan mau mengajarkan bahwa dalam kerajaan Sorga kita semua hidup dalam kemurahan Tuan kita, oleh sebab itu marilah kita rajin bekerja dalam lading tuan kita tanpa bersungut-sungut. Jangan lupa status kita yang adalah orang terbelakan, orang tak layak, yang hidup dalam kemurahan Tuhan.

Author – Lukman Setiawan

Taking Up Your Cross Daily

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9:23

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Korintus 1:18

Saya yakin, kita semua pasti tahu dan pernah melihat salib, atau mungkin ada yang menggantung salib di rumah atau sebagai kalung salib di leher. Tetapi, apakah kita mengerti makna salib yang sesungguhnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Salib adalah inti/pokok pengajaran Yesus, kekuatan Allah, kata Rasul Paulus.

Survei menunjukkan umumnya hanya di bawah 10% dari para petobat baru yang bertobat pada sebuah KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) yang bisa mempertahankan iman mereka dan bertumbuh menjadi seorang Kristen sejati. Hal ini disebabkan karena yang ditawarkan adalah Injil yang murahan dan penuh kemudahan, bukan Injil yang berisikan salib. Kita mengajak para petobat baru datang kepada Yesus dengan menawarkan bahwa hidup mereka akan menjadi lebih diberkati, mudah dan enak, bila percaya kepada Kristus. Padahal dalam kenyataannya tidak begitu, malah justru dalam mengikut Yesus sering akan lebih sulit dan menderita dari sebelum bertobat.

Salib merupakan dasar dan pembuka jalan dari pengenalan akan Tuhan yang sepenuhnya. Kita hanya bisa memiliki pengenalan Tuhan secara benar bila menerapkan prinsip salib secara terus-menerus, dan hal ini tidak akan pernah berakhir.

Hidup dengan salib akan membawa kita kepada kemenangan demi kemenangan sehingga kerohanian kita bertumbuh dari kemuliaan kepada kemuliaan.

Hidup dengan salib bukanlah memakai kalung atau anting, atau bahkan tattoo salib. Hidup dengan salib adalah:

Hidup  dalam persekutuan yang intim dengan ALLAH.

Bersekutu dengan Allah merupakan kehormatan yang Tuhan berikan kepada setipa orang percaya. Kita harus meletakkan hubungan dengan Tuhan sebagai prioritas utama, melebihi hal lainnya. Untuk itu kita harus menyediakan waktu khusus untuk bersekutu denganNya melalui lewat doa dan firman. Banyak orang Kristen yang sudah melayani dan terlibat dalam pelayanan, namun tidak mempunyai waktu khusus untuk bersekutu  dengan Tuhan. Mereka memang masih berdoa dan membaca firman, namun dengan waktu sisa dan terburu-buru. Berbagai alasan diutarakan, dari sibuk bekerja, sibuk ini dan itu. Bahkan ada alasannya yang sangat rohani, yaitu sibuk “pelayanan”.

Bagaimana mungkin kita bisa melayani Tuhan dengan benar dan efektif bila kita tidak mempunyai waktu untuk bersekutu denganNya, mendengar isi hatiNya dan kehendakNya?

Hidup dalam penyerahan penuh dan ketaatan total.

Penyerahan dan ketaatan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Semakin kita berserah kepadaNya maka kita akan semakin taat dengan Tuhan. Semakin tinggi tingkat penyerahan kita kepada Tuhan maka semakin banyak sifat dan karakterNya yang terpancar keluar dari hidup kita.

Ada dua pilihan bagi orang yang menghadapi pergumulan/masalah, yaitu mencari/berserah kepada Tuhan, atau melarikan diri dari Tuhan. Bila kita berserah kepada Tuhan maka kita akan mengalami kemenangan. Namun bila kita melarikan diri dari Tuhan dan kembali kepada kehidupan yang  lama maka kita akan terhilang.

Hidup dalam penderitaan dan aniaya.

Saat ini ada pengajaran yang mengatakan bahwa bila seseorang mengikut Yesus maka kehidupan akan menjadi mudah, penuh berkat materi dan kita tidak akan menderita, bahkan dikatakan tidak akan pernah sakit/masuk rumah sakit.

Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita harus mengalami sengsara (Kis. 14:22).

Yesus berkata bahwa sebagaimana dunia telah menganiaya Dia, maka kitapun akan dianiaya. Salah satu topik kobah di bukit, berbahagaialah orang yang dianiaya karena kebenaran sebab merekalah yang empunya  kerajaan Surga? (matius 5:10)

Penderitaan dan aniaya bukan hanya dari luar saja, tetapi juga dari dalam diri sendiri. Karena kalau sebuah kebenaran, kita harus menderita/sakit, “BE IT”, jangan kompromi.

Hidup dalam pengampunan dan kasih.

Tidak ada orang yang dalam hidupnya tidak pernah mengalami sakit hati dan dilukai orang lain. Sebab itu, Yesus mengajarkan kita dalam doa Bapa Kami untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, Tuhan mengajar kita bukan saja perlu mengampuni musuh bahkan untuk bisa mengasihi musuh. Tindakan pengampunan harus disertai dengan kasih.

Kita sebagai manusia yang berdosa telah diampuni oleh Tuhan, maka seharusnya kita menyadari bahwa kita juga harus bisa mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Yesus memberikan teladan kepada kita tentang pengampunan ketika Ia meminta kepada Bapa untuk mengampuni mereka yang telah menyalibkanNya.

Hidup dalam kerendahan hati dan pengosongan diri.

Selama hidupNya di dunia ini Yesus telah berjalan dalam kerendahan hati dan pengosongan diri (Filipi 2: 6-8). Pada jaman dahulu, kematian melalui salib merupakan cara kematian yang paling hina dari semua hukuman mati lainnya.

Yesus Kristus, Raja dari segala raja rela merendahkan diriNya menjadi serupa dengan manusia dan taat kepada Allah sampai mati di salib.

Salib melambangkan kmatian, kematian terhadap diri sendiri.

Saudaraku, prinsip dunia sangat berbeda dengan prinsip salib. Dunia mengajarkan untuk berebut posisi menjadi yang terbesar dan terkenal, mempromosikan diri kita agar menjadi popular. Tetapi Tuhan mengajarkan prinsip salib dimana untuk menjadi yang terbesar maka kita perlu menjadi yang terkecil.

Author – Pdt. Mindjaja Tani