Thou shall not make image

Ulangan 5:8-10

Acts edisi sebelumnya, kita telah membahas mengenai 10 perintah Allah, dimana kehidupan kita akan menjadi lebih baik jika kita menghormati isi dari 10 perintah ini. Kita telah membahas latar belakang dari perintah ini dan juga membahas perintah pertama, yang menyadarkan kita bahwa Tuhan kita adalah ‘El-shadai’ di kehidupan kita. Pada edisi kali ini kita akan membahas perintah kedua, “jangan membuat bagimu patung…”

Alkitab kita menterjemahkan menjadi patung, namun sebagian besar dari terjemahan bahasa Inggris menterjemahkan kata ini menjadi “image” dan “idol”. Kedua terjemahan tersebut tidak salah, namun memnurut pendapat saya, kata “image” atau ilah itu lebih cocok karena ini juga mencakup patung, serta segala ilah-ilah lainnya.

Di masyarakat zaman sekarang, image itu sangat penting. Walau seseorang tidak memiliki uang atau ‘bokek’ namun saat menghadiri sebuah pesta orang tersebut pasti tampil seperti bintang film.  Kita sangat perduli bagaimana orang lain melihat kita, kita sangat memperhatikan pendapat orang lain terhadap diri kita. Bahkan kita ingin kita ini dipandang baik dimata semua orang dan kalau bisa sepanjang masa. Dalam proses menjaga image ini, kita sering kehilangan jati diri kita dan kita merasa tidak ada kebahagiaan didalam hidup kita. Mengapa hal ini terjadi? Karena secara tidak sadar kita telah membuat “image” seperti yang telah dilarang Tuhan dalam perintah kedua.

Perintah kedua ini mencakup lebih dari pada penyembahan terhadap patung saja. Diayat ke-8, jelas sekali Tuhan memerintahkan kita untuk tidak membuat “Image” yang menyerupai apapun di langit, dibumi dan air dibawah bumi. Singkatnya segala sesuatu yang ada di bumi ini, termasuk orang, imaginasi, khayalan, dll.

Dalam ayat 9, Tuhan memerintahkan kita untuk tidak sujud menyembah dan beribadah pada image tersebut. Sering secara tak sadar kita membuat image atau mengidolakan hal-hal didunia ini. Kita ingin bisa sukses seperti konglomerat itu, sukses seperti orang tua kita atau sukses seperti bos kita. Terkadang kita terpesona melihat kecantikan para selebriti, pakaian yang mereka pakai, gaya rambut mereka yang sedang trendy, Kita tergila-gila  dengan cerita mereka dan menjadikan mereka idola kita. Sampai-sampai kita pelajari teknik dan pedoman hidup orang tersebut dan kita ikuti semua gaya hidup orang tersebut. Kita beli buku mengenai kesukesan orang tersebut. Secara tak sadar kita mulai “beribadah” dan “menyembah” dan mendewakan orang/ tokoh tersebut.

Jika kehidupan kita mengejar ilah-ilah yang ada di dunia ini, dan impian hidup kita dipengaruhi oleh image-image ini kita tak akan bisa menemukan kebahagian yang sepenuhnya. Ayat ke-9 bagian kedua mengatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu, dan Allah kita akan membalas kesalahan seseorang pada keturunannya.

Jika kita baca ayat ini kita sering menyimpulkan bahwa Allah kita adalah Allah yang sangat egois dan Allah yang pendendam. Namun kalau kita pikirkan lebih dalam lagi, mengapa Allah kita cemburu? Karena kita tak bisa mencampurkan antara Allah dan image yang lain di kehidupan kita. Dia sangat berbeda dengan dunia ini dan kita tak mungkin bisa memiliki keduanya. Kata cemburu dalam bahasa aslinya berakar dari kata marah. Allah kita marah jika hati kita mendua, mngapa Beliau marah? Karena Allah kita tahu jika kita mengejar image yang lain hidup kita akan hancur dan Dia sangat sedih melihat kehancuran hidup kita, oleh sebab itu Dia marah.

Apakah Allah kita pendendam? Mengapa kesalahan seseorang harus dibayar oleh keturunan orang tersebut? Tidak bisa disangkal bahwa cara berpikir, impian, aspirasi dari orang tua pasti memiliki peranan yang kuat dalam diri seseorang. Nilai, norma-norma yang paling dihormati oleh orang tua kita, pasti akan mempengaruhi  hidup kita. Jika seseorang ini mengejar dan menyembah image yang salah, kemungkinan besar keturunan orang ini akan terpengaruh. Oleh sebab itu jika image yang dikejar orang itu salah maka bukan hanya dia yang tidak dapat memperoleh kebahagiaan hidup, bahkan keturunan orang tersebut akan juga terpengaruh. Jadi secara otomatis kalau kita menjauhi Tuhan , yang merupakan sumber kehidpuan, maka kita akan mati dan merasa terkutuk. Bukan hanya kita saja yang terkutuk namun sampai keturunan kita.

Nama pelayanan kita adalah “Replique Ministry” kita memiliki tugas untuk membawa Tuhan kita sebagai image, idola, panutan dalam kehidupan semua orang. Ini adalah tugas yang mulia yang diberikan Tuhan kepada kita. Bagaimanakah cara orang lain dapat melihat Dia dalam kita? Dengan menjadikan Dia sebagai “Image” kita, Idola kita, Panutan kita. Kita pelajari apa yang Dia lakukan, Dia impikan, kita pelajari trendy menurut Allah, maka kita akan dapat menunjukkan Tuhan kita pada dunia ini. Ayat 10 dari pembacaan kita pada edisi ini menunjukkan janji dari Tuhan yang akan melimpahkan kasihNya pada kita yang mengidolakan Dia. Dan berkat bagi mereka yang terus berusaha mengenal Tuhan kita dengan membaca dan merenungkan firmanNya.

Saya yakin jika kita mengidolakan Tuhan kita, kehidupan kita akan dipenuhi dengan kasihNya dan kehidupan kita akan menjadi saluran kasihNya kepada orang lain.

Author – Lukman Setiawan