Jangan Mencuri

Keluaran 20:15, Yohanes 10:10

Perintah ke-8 ini terlihat amat sederhana, “Jangan Mencuri”.  Kita yang kebanyakan diberkati dengan berkat fisik yang berkecukupan, sering berpikir bahwa kita tidak mengalami dorongan untuk mencuri.  Tapi apakah kita benar-benar tidak pernah mencuri? Apakah ini perintah yang paling ringan untuk dipenuhi? Untuk mengerti mencuri ada pertama kita perlu mengerti arti hak milik secara alkitabiah, tanpa adanya hak milik, tak ada yang dapat dicuri.

Alkitab mengajarkan bahwa semua hal didunia dan isinya adalah ciptaan Tuhan, oleh sebab itu tak ada satu hal pun didunia ini yang bukan merupakan milik Tuhan.  Kita sebagai ciptaan dan milikNya diberikan hak istimewah untuk mengolah kepunyaan Tuhan.  Posisi kita adalah seorang steward, seorang hamba yang diberi kuasa untuk mengatur hak milikNya. Oleh sebab itu kita harus bertanggung jawab terhadap kepercayaan Tuhan ini.

Jika kita mengerti hak milik adalah tanggung jawab yang diberi Tuhan kepada kita, perintah “jangan mencuri” akan lebih dari pada hanya sekedar merampok, mencopet, jambret, dll.  Segala tindakan kita yang mengangu kewajiban kita atau orang lain terhadap Tuhan adalah pelangaran terhadap perintah “jangan mencuri”.

Oleh sebab itu saat kita tidak memenuhi kewajiban kita sebagai pekerja, kita telah mencuri.  Suatu survey dinegara maju memberikan hasil bahwa dalam 8 jam kerja dalam sehari, rata-rata hanya 2 jam efektif dan 6 jam terbuang.  Ini adalah tindakan pencurian, sama saja dengan mencuri uang dari organisasi dimana orang tersebut dipekerjakan.

Namun yang sering tidak kita sadari adalah kita sering mencuri dari Tuhan kita.  Jika kita telah mengerti bahwa hak milik adalah kewajiban, jika kita mengabaikan kewajiban kita terhadap Tuhan, kita telah mencuri dari Tuhan kita. Kitab Malekhi adalah kitab yang ditulis untuk menegor umat Israel mengabaikan kewajiban mereka terhadap Tuhan.  Dalam ayat 3:8-10, firman Tuhan menegor dengan keras bangsa Israel menegenai kewajiban pelayanan mereka terhadap Tuhan.  Umat Israel bertanya “dengan cara bagaimana kita mencuri?” dan Tuhan menjawab dengan mengabaikan kewajiban mereka terhadap Tuhan, dalam context ini perpuluhan namun secara umum Tuhan mengigatkan kita akan kewajiban kita terhadapNya.

Masalah terbesar dari kegagalan orang dalam mentaati perintah ini adalah disebabkan kurang percayanya orang pada Tuhan.  Karena rasa kurang percaya ini, seseorang akan menjadi tidak puas terhadap apa yang telah Tuhan sediakan dan timbul keinginan untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi, ini membuat orang tersebut menjadi rakus. Kemungkinan yang kedua yang terjadi pada orang yang kurang percaya adalah kekuatiran terhadap hidupnya sampai orang tersebut melupakan kewajibannya, baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama dan kehidupannya terfokus pada keegoisan diri.  Sering juga orang mencuri diri sendiri saat orang tersebut menyianyiakan potensi / talenta yang telah dipercayakan Tuhan untuk membangun kerajaannya disalah gunakan hanya untuk memuaskan nafsu.

Dalam Yohanes 10:10, Alkitab mengajarkan bahwa hanya iblis yang datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan.  Bagaimanakan dengan kehidupan kita? Apakah kita seorang steward yang baik yang bertangung jawab terhadap segala hal yang Tuhan percayakan kepada kita atau kita mau menjadi iblis yang egois yang hanya mencuri, membunuh dan membinasakan?

Marilah kita berikan rasa syukur kita yang terbaik dan yang layak bagi Tuhan kita. Jangan kita ‘mencuri’ apa yang layak dan seharusnya kita berikan pada Tuhan kita. Tuhan telah memberikan berkat yang cukup terhadap hidup kita, marilah kita belajar untuk menjadi steward yang baik.

Author – Lukman Setiawan