Abraham

Dalam sejarah kekristenan, Abraham dikenal dengan sebutan: Bapa orang percaya. Seseorang yang dibenarkan karena imannya kepada Tuhan, justified by Faith. Apabila kita membaca sejarah cerita Abraham dalam kitab Kejadian, Abraham mengalami hidup yang sangat diberkati oleh Tuhan tetapi juga mengalami begitu banyak cobaan dan pegalaman hidup yang tidak mudah.

Abraham yang pada awalnya dikenal sebagai Abram, berasal dari tanah Ur-Kasdim, sebuah daerah di Timur Tengah, sebuah daerah di mana penduduknya memuja dewa Bulan, dewa kesia-siaan. Tetapi karena kasih Tuhan kepada manusia, melalui Abraham, Ia memanggil ciptaanNya untuk kembali kepada kasih Tuhan, sebagai rancanganNya untuk memberikan jalan keslamatan kepada umat manusia.

Karena itulah dalam Kejadian 12:1 Tuhan pertama kali memanggil Abraham untuk keluar dari tanah dimana ia hidup, untuk keluar dari ‘comfort zone’ kehidupannya dan menuju ke arah yang Tuhan telah sediakan kepada Abraham yaitu sebagai rancangan keselamatan untuk dunia ini. Tidaklah mudah untuk meninggalkan hal-hal yang sudah menjadi comfort kita, pegangan kita. Tetapi Abraham mempunyai iman, walaupun ia pada awalnya belom dapat melihatnya secara detail. Ia meninggalkan semuanya untuk mengikuti jalan dan janji Tuhan.

Pada saat Abraham dipanggil Tuhan, Tuhan memberikan 7 janji kepadanya seperti yang dicatat dalam Kejadian 12:2-3

  1. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan
  2. Memberkati engkau serta
  3. Membuat namamu masyhur; dan
  4. Engkau akan menjadi berkat.
  5. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan
  6. Mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan
  7. Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dan memang karena ketaatan Abraham lah, ia mendapatkan seluruh 7 janji yang Tuhan telah sediakan untuknya, bahwa

  1. Ia menjadi bangsa yang besar, dari keturunan Abraham-lah bangsa Israel terbentuk, bahkan ada sampai hari ini.
  2. Ia begitu diberkati oleh Tuhan, seluruh hidupnya diberkati oleh Tuhan dengan berkat melimpah.
  3. Namanya dikenal oleh banyak orang di muka bumi, bahkan sampai sekarang. Ia adalah tokoh yang highly regarded oleh 3 agama terbesar yang ada di muka bumi ini, yaitu agama Yahudi, agama Islam dan agama Kristen (baik Kristen maupun Katolik).
  4. Ia menjadi berkat bagi yang lain, ia menjadi berkat bagi keluarganya termasuk Lot.
  5. Orang-orang yang baik dengan Abraham pun terberkati.
  6. Orang-orang yang adalah musuh Abraham juga menjadi musuh Allah.
  7. Dan ultimately melalui garis keturunan Abrahamlah, Tuhan kita Yesus Kristus lahir sebagai manusia dan menjadi berkat bagi seluruh bumi.

Hanya karena imanlah, Abraham dibenarkan, hanya karena imanlah ia memperoleh janji Tuhan. Tetapi di dalam pengalaman hidupnya, tidaklah semulus yang dibayangkan, pencobaan-pencobaan terus datang silih berganti, dari pencobaan-pencobaan dari musuh-musuh yang ingin menyerangnya, masalah keluarga, masalah menunggu janji Tuhan mengenai keturunan dimana ia harus menunggu sampai ia berumur 100 tahun sebelum ia mendapatkan Ishak, dan banyak hal lainnya termasuk saat dimana ia harus mengorbankan anaknya sendiri.

Abraham tahu bahwa ia perlu bersabar di dalam iman agar janji Tuhan dapat terpenuhi dengan sempurna. Kita sering kali tidak dapat bersabar, tetapi biarlah pelajaran mengenai Abraham ini dapat menguatkan kita untuk terus bersabar di dalam iman kita kepada Kristus Yesus. Walaupun terkadang kita ‘nervous’ akan jalan yang Tuhan ingin kita tempuh, tetapi biarlah we let God be God, and let us be His faithful servant. Karena jalan Tuhanlah yang paling sempurna, dan ini dapat kita lihat dari perjalanan kehidupan Abraham.

Pelayanan Replique ini pun mengalami banyak tantangan, tetapi hanya dengan terus setia dan beriman kepada Tuhanlah, kita dapat mengalami ke-7 janji anak kembar yang Tuhan berikan kepada pelayanan ini. Yang perlu kita lakukan hanya untuk terus hidup setia dan beriman.

Dan untuk kehidupan pribadi kita pun, saya percaya jalannya hanya satu yaitu untuk hanya beriman kepada Tuhan saja. Dengan menyerahkan seluruh hidup kita, sama seperti Abraham, hanya kepada janji Tuhan. Ikutilah Kristus, dan hidup kita akan diubahkan dan hidup yang penuh berkat akan kita terima yaitu salvation and richness in Jesus Christ.

… Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya….. 

2 Korintus 8:9

Author – Sucipto Prakoso

Daud

Ketika kita mendengar kata ‘Raja Daud’, apakah yang akan terlintas di kepala kita? Kita akan membayangkan seorang raja muda yang diurapi oleh Tuhan menjadi raja atas bangsa Israel. Kemudian kita juga akan membayangkan seseorang yang walaupun bertubuh kecil tapi dapat mengalahkan Goliath, seorang jagoan bangsa musuh Israel yang tingginya hampir 3 meter. Hmmm mungkin saja Daud tidak sependek yang kita bayangkan, rasanya setiap orang kalau dihadapan Goliath yang tingginya hampir 3 meter akan serasa seperti orang kerdil.

Tetapi kalau saya mendengar kata Daud, ada hal yang terlintas di bayangan saya, yaitu mengenai lagu dan pujian dan tarian. Ada 2 lagu yang sering kali kita nyanyikan mengenai Daud, yang pertama adalah sebuah lagu yang seringkali dinyanyikan dengan irama dangdut:

‘Kalau Roh Allah ada di dalamku, kukan menari sperti Daud menari’

Kemudian juga ada sebuah lagu lagi yang diambil dari Mazmur 23, sebuah Mazmur atau sebuah pujian yang dilantunkan oleh Raja Daud sendiri. Lagu yang kita kenal dengan judul ‘Tuhan adalah gembalaku’, sebuah lagu yang saya ingat pernah diajarkan di sekolah minggu dan yang tidak dapat saya lupakan. Lagu yang mengandung arti yang begitu dalam, yang menceritakan mengenai iman dari Daud, perasaan dan apa yang dialaminya. Mari kita melihat apa saja yang ingin Daud sampaikan melalui lagu, pujian Mazmur 23 ini:

Mazmur 23:1 – Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Hal pertama yang Daud sampaikan adalah iman Daud itu sendiri, bahwa kalau Tuhan menjadi gembala kita atau yang menuntun kita, kita tidak akan pernah kekurangan. Di dalam terjemahan Inggrisnya, ayat ini ditulils: The Lord is my shepherd, I shall not want. Atau kalau dapat diterjemahkan, ‘Kalau’ Tuhan adalah gembalaku, tidak ada hal lain yang aku ingini. Atau dapat juga berarti: Tidak ada hal yang kuingini selain Tuhan. Atau dengan kata lain, pada saat ‘aku’ yang aku ingini, Tuhan tidak akan dapat menjadi gembala kita.

Mazmur 23:2 – Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Kemudian di dalam ayat 2, dikatakan bahwa Tuhan akan membawa kita ke padang berumput hijau dan air yang tenang. Pada saat mendengar lagu ini, kita akan dapat merasakan sebuah kedamaian, sebuah setting yang begitu tenang dan menyegarkan. Hal ini juga berbicara mengenai our needs, hal yang diperlukan oleh seekor domba adalah rumput untuk makanannya dan juga air untuk minumnya. Hal ini berbicara mengenai our core needs, kebutuhan kita yang terutama. Bahwa kebutuhan utama kita, our core needs, akan dipenuhi oleh Tuhan. Sering kali kita distracted dengan hal-hal yang ada disekitar kita, hal-hal yang seringkali bukan merupakan kebutuhan utama kita. Tetapi Tuhan kita tahu apa yang merupakan kebutuhan utama kita yaitu rumput hijau dan air yang tenang, yaitu keselamatan dan kedamaian hati dan jiwa.

Mazmur 23:3 – Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Tugas seorang gembala adalah untuk menuntun domba-dombanya ke arah dan jalan yang benar. Pada saat kita membiarkan Tuhan menuntun hidup kita, kita akan dapat berjalan di jalan yang benar. Saya pernah membaca sebuah cerita mengenai seorang prajurit yang baru masuk ke militer. Tugas pertamanya adalah untuk memisahkan tumpukan kentang, untuk memisahkan antara kentang yang baik dan kentang yang tidak baik. Setelah beberapa jam berikutnya, atasannya kembali lagi untuk melihat apa yang telah dilakukan oleh prajurit baru ini. Tetapi yang dilihatnya, tidak ada satu kentang pun yang telah dipisahkan. Yang dilkakukan oleh prajurit itu hanyalah melihat satu kentang yang ditangannya. Kemudian atasannya ini pun bingung mengapa setelah beberapa jam belom ada satu kentang pun yang dipisahkan antara yang baik dan yang tidak baik. Atasan itu bertanya: “Apa masalahnya? Kamu tidak suka bekerja keras yah?” Prajurit itu pun menjawab: “Bukan pekerjaannya, tetapi keputusan kentang mana yang baik dan mana yang tidak baik itulah yang membingungkan saya.”

Memang sering kali di dalam kehidupan ini banyak hal membingungkan yang harus kita pilih, tetapi kalau Tuhan adalah gembala kita, Ia akan menuntut kita di jalan yang benar, dan itulah yang juga dialami oleh Raja Daud

Mazmur 23:4 – Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Bahwa di dalam kesesakan, di dalam bahaya, dan di dalam pergumulan, Tuhan akan selalu beserta dengan kita. Janji Tuhan Yesus adalah Immanuel, Tuhan yang akan selalu beserta dengan kita kalau kita mau terus setia dan ikut Tuhan senantiasa. Gada adalah alat yang digunakan oleh seorang gembala yang seperti sebuah pentungan yang dapat dipakai untuk mengusir binatang buas yang hendak memangsa domba-dombanya, dan juga tongkat yang biasanya ujungnya melengkung yang dipakai untuk menarik seekor domba kalau dombanya itu sedang ke arah yang salah. Tuhan yang maha kuasa juga mampu melindungi kita dari musuh-musuh kita dan juga dengan tongkatNya yang dipakai untuk mengajar kita, walaupun kadang kala tidak enak tapi daripada kita menjadi tersesat dan memilih jalan yang salah.

Mazmur 23:5-6 – Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Kemudian di akhir dari lagu Daud ini adalah bahwa pada akhirnya Tuhan akan memberkati kita secara melimpah, dan musuh kita pun akan dapat melihat bagaimana penyertaan Tuhan itu ada pada kita. Di hadapan lawan Daud, para lawannya dapat melihat urapan dari Tuhan penuh melimpah di dalam hidup Daud. Kebajikan Tuhan, dan kemurahan Tuhan akan ada terus bersama kita, seumur hidup dan sepanjang masa.

Author – Sucipto Prakoso

Metusalah

Kadang kala saya berpikir, berapa lama kita sebagai manusia akan hidup? Siapakah manusia yang tertua? Akankah kita hidup sampai tua di dunia yang fana ini?

Menurut sejarah manusia modern, manusia yang paling tua yang pernah hidup di jaman modern ini adalah seorang ibu yang bernama Jeanne Calment dari Prancis, yang lahir pada tanggal 21 February 1875 dan meninggal pada tanggal 4 August 1997. Atau dengan kata lain, Jeanne Calment hidup selama 122 tahun.

Hal ini sesuai dengan apa yang Tuhan katakan sebelum air bah menggenangi bumi ini. Kejadian 6:3 Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan 120 tahun saja.” Firman Tuhan tidak akan pernah bertentangan dengan apa yang terjadi di dalam kehidupan kita, termasuk umur manusia secara daging di dunia ini. Dan memang 120 tahun lah umur manusia di bumi ini.

Saya berpikir, “Wow, lama sekali yah.” Bayangkan saja kalau saya hidup sampai 120 tahun, apa yang dapat dikerjakan di usia yang setua itu, sudah keriput dan mungkin agak kesulitan untuk bergerak, kuping sudah menjadi tuli, dan gigi sudah hilang semua.

Tetapi sebelum itu, sebelum Kejadian 6:3, manusia hidup jauh lebih lama dari itu, Alkitab mencatat bahwa umur manusia terpanjang yang pernah ada di dalam sejarah manusia adalah Metusalah. Ia adalah manusia dengan umur terpanjang yaitu 969 tahun. (Kejadian 5:27). Ayah dari Metusalah adalah seseorang yang bernama Henokh. Henokh adalah seseorang yang begitu setia dengan Tuhan. Alkitab mencatat bahwa Henokh hidup bergaul dengan Tuhan sehingga ia tidak mengalami kematian dan langsung diangkat oleh Allah sendiri (Kejadian 5:24). Kitab Ibrani pun mencatat hal yang sama mengenai Henokh (Ibrani 11:5) yaitu “Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.”

Dalam kitab kejadian dicatat bahwa Henokh ‘bergaul’ dengan Allah. Bergaul di sini bukan hanya berarti ‘berteman’. Dalam terjemahan bahasa Inggrisnya dipakai kata ‘Walk with God’, atau dengan kata lain, Henokh selama hidupnya selalu berjalan melangkah bersama dengan Allah. Kemanapun Tuhan melangkah, kesanalah Henok melangkah, tidak lebih cepat, tidak lebih lambat.

Karena itulah Tuhan begitu memberkati Henokh. Henokh mempunyai anak yang juga luar biasa yaitu Metusalah. Arti nama Metusalah adalah ‘Man of Dart’ atau dapat juga berarti “When he dies, it will come”. Bisa dibayangkan pada waktu ia dinamakan Metusalah oleh Henokh, dengan hikmat dari Tuhan; semua dari kenalannya, saudaranya, tetangganya, bahkan semua orang yang hidup di jaman dulu itu akan bertanya-tanya, apakah maksudnya ini. Apakah yang akan terjadi pada saat bayi ini meninggal? Sampai umur berapa bayi ini akan hidup? What will happen?

Methusalah: Man of Dart: When he dies, it will come. When he dies, the Dart will come. Sebuah tusukan akan terjadi untuk dunia ini pada saat bayi ini berhenti bernafas. Pada waktu itu, banyak sekali manusia yang hidup di dalam kepicikan dan kejahatan. Dan Tuhan pun tidak suka akan hal ini, sehingga ia memberi kesempatan kepada setiap orang yang hidup di jaman itu ‘to watch out’ melalui kelahiran dan arti dari nama Metusalah. Kesempatan untuk merubah hidup mereka dari yang jahat kepada kebenaran. Dan Tuhan memberikan mereka waktu, bahkan waktu yang sangat panjang, yaitu 969 tahun. When he dies, it will come. Pada saat anak ini meninggal, something big will happen.

Tuhan adalah Allah yang selalu memberikan kepada setiap dari kita kesempatan. Kesempatan untuk merubah hidup kita melalui pertobatan kita. Saya dapat membayangkan seluruh perhatian setiap orang tertuju ke anak ini. Pada waktu anak ini sakit, semuanya langsung waspada, pada waktu anak ini hilang, semua langsung khawatir. Mengapa mereka khawatir? Mereka khawatir kalau-kalau hal yang mengerikan akan terjadi, sebuah tusukan (dart) untuk dunia ini akan terjadi karena mereka tidak mau bertobat. Tuhan memberikan kesempatan untuk manusia yang hidup di jaman itu untuk bertobat. Tapi sayang sekali, tetap saja mereka tidak mau, walaupun telah diberi kesempatan selama 969 tahun, sebuah kurun waktu yang begitu panjang.

Sehingga tepat setelah Metusalah mati, datanglah air bah, datanglah hujan dengan magnitude yang tidak pernah dilihat sebelumnya, yang menggenangi seluruh permukaan bumi, sehingga setiap manusia yang hidup itu binasa karena kepicikan dan kebebalan mereka. Berapa lama Tuhan memberikan kesempatan
ini? 10 tahun, 20 tahun? Tidak! Tuhan memberikan 969 tahun!! I think it is long enough untuk setiap orang bisa datang berbalik dan bertobat. Tetapi begitulah seringkali manusia ini, tidak mau bertobat.

God gives us a life time to repent.

Karena itu biarlah kita tidak menyia-nyiakan
kesempatan ini. Tuhan memberikan waktu kepada kita, selama kita hidup di dunia ini, untuk bertobat, karena itu pakailah kesempatan ini. Jangan tunggu sampai kita mati karena kalau kita tidak mau bertobat dan kemudian kita mati, semuanya sudah terlambat. When we die, it will come. When we die, the dart will come.

Rencana penyelamatan Tuhan sudah tersurat sejak awal sejarah manusia, dan juga melalui Metusalah yang hidup begitu panjang sebagai tanda kasih Tuhan. Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali ke jalan kebenaran yang berasal dari Kristus dengan generous.

Tuhan adalah Allah yang begitu mengasihi kita, Ia tidak menghendaki kita binasa, karena itulah Ia memberikan kepada kita Yesus Kristus anakNya yang tunggal. ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal’. Yohanes 3:16

Author – Sucipto Prakoso

No Time To Pray

I knelt to pray but not for long

I had too much to do

I had to hurry and get to work

For bills would soon be due.

No time to pray

 

So I knelt and said a hurried prayer

And jumped up off my knees

My Christian duty was now done

My soul could rest at ease.

 

All day long I had no time

To spread a word of cheer

No time to speak of Christ to friends

They’d laugh at me I’d fear.

 

No time, no time, too much to do

That was my constant cry

No time to give to souls in need

But at last the time to die.

 

I went before the Lord, I came

And stood with downcast eyes

For in His hands God held a book

It was the book of life.

 

God looked into his book and said,

“Your name I cannot find

I once was going to write it down

But never found the time.”

Author – Unknown

Hakuna Matata

Term populer ini pertama kali dilontarkan oleh Timon dan Pumba dari film Lion King. It means no worries, for the rest of your days. Dalam bahasa aslinya (Swahili), hakuna matata berarti “don’t worry, be happy”.

Winston Churchill, seorang Prime Minister dari Inggris, pernah berkata “when I look back on all these worries, I remember the story of the old man who said on his deathbed that he had had a lot of troubles in his life, most of which had never happened”. Atau dengan kata lain, kekuatiran kita selama hidup belum tentu terjadi.

Alkitab sendiri menuturkan, “karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25)

Jika demikian, kenapa manusia tetap kuatir? Mungkin beberapa point dibawah bisa membantu kita untuk menjadi lebih tidak kuatir.

  1. Kuatir tidak menghasilkan apa-apa. Alkitab sendiri berkata kalau kuatir bahkan tidak akan memenuhi kebutuhan dasar kita. Daripada kita lelah karena kuatir, bukankah lebih baik kita memfokuskan energi kita untuk hal lain yang menghasilkan sesuatu.
  2. Mengapa kita kuatir? Apapun alasannya, biasanya kekuatiran datang dari limitasi kita sebagai manusia. Sesuatu yang dapat membuat kita kuatir biasanya dapat terjadi diluar kuasa kita. Tidakkah lebih baik jika kita bersandar kepada kuasa Tuhan yang melampaui segala batas pikiran manusia?
  3. Pada kenyataannya manusia akan tetap kuatir. Lalu bagaimana kita bisa mengatasinya? Paulus selama perjalanannya menghadapi situasi yang pasti akan membuatnya kuatir. Namun Paulus mengerti kalau Tuhanlah sumber pengharapannya. Paulus percaya kalau Tuhan akan memberi jalan keluar kepada situasi yang diluar kuasanya.

Tidak kuatir bukan berarti ignorant. Ada perbedaan besar antara ignorant dan tidak kuatir. Alkitab tidak ingin kita menjadi ignorant, tetapi Ia ingin kita untuk tidak bersandar kepada kekuatan kita tetapi bersandar kepadaNya. Filipi 4:6 berkata “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”.

So stop worrying and start believing in God.

Author – Yoanes Koesno

Jehovah Nissi – The Lord Is My Banner

Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.”

Exodus 17:14 

Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: “Tuhanlah panji-panjiku!”

Exodus 17:15 

Ia berkata: “Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.”

Exodus 17:16  

Tuhan adalah Tuhan yang Maha Kuasa, Ia adalah Tuhan sumber kekuatan kita dan sumber kemenangan kita. Dan memang inilah juga yang dirasakan dan dialami oleh Musa, abdi Allah. Tuhan memakai Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju ke tanah perjanjian. Dalam perjalanan menuju ke tanah perjanjian, yaitu tanah Kanaan, bangsa Israel harus menjalani perjalanan yang sering kali berat termasuk juga harus menghadapi orang-orang dan bangsa-bangsa lain yang memusuhi bangsa Israel.

Termasuk diantaranya yaitu bangsa Amalek. Kalau mau dilihat silsilah jaman dahulu kala, bangsa Amalek itu berasal dari keturunan Esau, Esau yang menjual hak anak sulungnya demi masakan kacang merah. Esau yang sering kali digambarkan sebagai seseorang yang lebih mementingkan kebutuhan jasmani dibandingkan berkat rohani.

Kembali ke bangsa Israel, pada waktu di perjalanan mereka menuju tanah Kanaan, mereka bertemu dengan bangsa Amalek dan mau tidak mau mereka harus melawan bangsa Amalek yang adalah musuh dari bangsa Israel. Peperangan ini terjadi di Rafidim.

Kemudian Musa memanggil Yosua untuk memimpin peperangan ini. Pada saat Musa mengangkat tongkat Tuhan maka Yosua dan bangsa Israel menjadi lebih kuat dari bangsa Amalek, tapi kalau Musa menurunkan tongkat Tuhan, Yosua dan bangsa Israel menjadi lebih lemah dari bangsa Amalek. Musa yang mengangkat tongkat lama-kelamaan merasa capai sehingga Harun dan Hur harus menopang tangan Musa agar bangsa Israel dapat menang.

Dan memangakhirnya bangsa Israel menang dan kemudian Tuhan berfirman, untuk menulis kemenangan ini dan untuk mengingatkan Yosua, sang penerus pemimpin bangsa Israel, untuk selalu ingat bahwa Tuhan senantiasa menyertai bangsa Israel.

Kemudian Musa mendirikan sebuah mezah, sebagai tanda kebesaran Tuhan dan menyebut mezbah ini Yehovah Nissi, yang berarti Tuhan adalah panji-panjiku: The Lord is my banner.

JehovahNissiBanner, seperti kita ketahui adalah seperti sebuah bendera. Seperti sebuah lambang yang melambangkan kedaulatan, kemenangan dan kemerdekaan. Seperti contoh, bendera Indonesia adalah merah putih yang menggambarkan kedaulatan negara Indonesia. Negara Australia juga mempunyai bendera atau panji panjinya. Setiap negara di dunia mempunyai bendera masing-masing. Di dalam kebudayaan bangsa Israel jaman itu, panji-panji itu sering kali dilambangkan dengan altar, karena itulah Musa membangun altar sebagai lambang kedaulatan Tuhan.

Kalau mau dilihat spiritual meaning dari kisah ini, Amalek dapat digambarkan sebagai musuh spiritual kita, hal-hal yang menjadi hambatan untuk kita dapat bertumbuh, hal-hal yang membuat kita tidak dapat maju di dalam Tuhan, hal-hal yang membuat kita kehilangan focus di dalam kehidupan kita dan masalah-masalah yang menghambat kita.

Asalkan tangan kita dapat terus terangkat kepada Tuhan, kita pasti menang seperti Yosua. Karena Tuhan adalah panji-panjiku. Karena itu ketika kita dihadapkan kepada suatu hambatan, biarlah kita dapat percaya sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan. Biarlah kita dapat terus berpegang kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan, dan percaya bahwa di dalam Tuhan ada kemenangan, sehingga di dalam peperangan kita pun dapat berkata: Yehovah Nissi, sama seperti Musa dan Yosua. Yehovah Nissi: The Lord is my banner.

Tuhan adalah panji-panjiku dan di dalam Tuhan terletak kemenangan.

Author – Sucipto Prakoso

Janji

Janji… sesuatu yang mudah sekali untuk dibuat tapi terkadang sulit sekali untuk dipenuhi.

Saat memasuki usia baru gede, ingin sekali rasanya menghasilkan uang sendiri. Teman-teman banyak yang memiliki pekerjaan sambilan. Sepertinya enak juga punya uang jajan tambahan. Dengan penuh semangat resume disusun rapih dan selalu dibawa beberapa lembar di dalam tas sekolah. Begitu melihat ada toko yang mencari pegawai paruh waktu, dengan menahan sedikit rasa malu, masuk dan memberikan resume yang sudah disiapkan kepada sang manager.

Suatu sore, telepon berdering dan ternyata yang menghubungi adalah seorang wanita dari salah satu toko yang sedang membutuhkan pegawai paruh waktu. Singkat cerita, setelah melalui beberapa proses, pekerjaan itu pun akhirnya didapatkan.

Senang, gembira berbaur menjadi satu, pada saat itu dengan gampang sebuah janji terucap, “Tuhan, hasil pertama dari pekerjaan ini, semuanya untuk Tuhan!”

Satu hari, dua hari, tiga hari, ternyata pekerjaannya sangat melelahkan. Setelah merasakan lelahnya, tidak rela rasanya kalau memberikan semuanya ke Tuhan. Wishlist pun mulai disusun, mau beli ini itu banyak sekali..

Hmmmh, saatnya untuk bernegosiasi, terlintas di pikiran saat itu, “Koq… hmmmh, ya udah deh abis telanjur janji, buat Tuhan hasil hari pertama aja yaaaa.” Sebenernya di dalam hati berasa kurang srek, tapi kalau mau kasih semuanya yah juga gak rela.

Akhirnya tiba hari yang ditunggu-tunggu, pay day, waktunya menerima gaji. Dengan semangat mengecek bank account, di mana seharusnya gaji tersebut dikirimkan. “Gak ada!” Hmm, mungkin besok. “Gak ada juga!”

“Haa… yang bener ajah, masa ga masuk-masuk duitnya.” Akhirnya dengan takut-takut menanyakan hal tersebut kepada sang manager. “Really? It should have been paid. I will check it”, begitu jawab sang manager setelah dia melakukan cross check pada bank account detail. Namun, suaranya terderdengar penuh keragu-raguan dan seperti tidak percaya.

Seminggu…, gaji tetap belum dibayar, sang manager belum mendapatkan jawaban dari kantor pusat yang menangani payroll untuk karyawan. Aneh…, di tengah-tengah rasa kesal karena harus terus bekerja tapi belum dibayar, kembali terlintas di kepala mengenai janji yang sempat diucapkan sebelum memulai hari pertama di pekerjaan ini. Andai, janji yang pertama kali diucapkan ini gak ditawar-tawar dan dimodifikasi, kejadian ini akan terjadi gak yahhh.

“Tuhan, koq gini sih? Yah emang sih waktu itu udah janji…. Hmmmm”

Tapi setelah dipikir-pikir dan direnungkan, rasanya memang salah. Gak seharusnya janji yang sudah diucapkan itu diubah dan dibatalkan seenaknya saja. Setelah melewati pergumulan dalam pikiran, akhirnya sampailah kepada keputusan akhir, memenuhi janji yang sudah diucapkan.

Keputusan yang sangat berat untuk diambil. Membuang jauh-jauh wishlist yang sudah disusun, bekerja tanpa merasakan hasilnya sama sekali, …. Tapi, sepertinya keputusan itu benar, walaupun berat untuk diambil, tetapi setelah diputuskan lega rasanya.

Yang lebih mengherankan lagi, pada hari bekerja berikutnya, sang manager langsung mengkonfirmasi kalau gaji memang belum dikirim dan akan dikirimkan ke rekening secepatnya. Sungguh aneh, tapi nyata. Tapi, melalui kejadian inilah untuk pertama kalinya saya belajar untuk tidak sembarangan mengucapkan janji, jika sudah berjanji yah perlu untuk ditepati. Janji sama orang ajah perlu untuk dipenuhi, apalagi janji kepada Tuhan.

Biarlah kita dapat menggenapi janji-janji yang sudah kita buat kepada Tuhan, karena Tuhan sendiri tidak pernah ingkar terhadap apa yang sudah Dia janjikan.

Author – Unknown

Seruan Untuk Bertobat

September 2009, kita mendengar berita mengenai sebuah gempa yang terjadi di Indonesia, yaitu di pulau Jawa. Sangat mengerikan memang kejadian ini, pada saat saya mendengar berita ini, saya teringat akan bencana tsunami besar yang terjadi beberapa tahun silam. Walaupun telah terjadinya beberapa tahun silam, sepertinya baru saja terjadi. Dulu tsunami, dan sekarang kembali adanya gempa.

Walaupun epicenter gempa yang terjadi minggu lalu di pulau Jawa ini tidak berada di Jakarta, tetapi saya pun tetap menelpon keluarga yang berada di Jakarta untuk ‘make sure’ semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Memang kita berada di dunia yang sering sekali terdengar berita berita yang tidak meng-enakkan. Orang berkata kalau surat kabar atau siaran berita selalu saja dipenuhi dengan berita-berita yang tidak meng-enakan, baik itu bencana alam, gempa, tanah longsor, pembunuhan, anak hilang, pencurian, kejahatan, korupsi dan lainnya. Dan memang benar, kalau kita kita membuka surat kabar atau siaran berita, banyak sekali berisi berita-berita yang seperti demikian ini.

Bahkan di Melbourne pun dikabarkan bahwa angka kejahatan semakin meningkat, sehingga para polisi, khususnya di kota Melbourne ini meningkatkan system security di city center of Melbourne dengan menginstall banyak kamera di mana-mana. Kota Melbourne seperti menjadi kota ‘Big Brother’. Saya tidak pernah menyangka bahwa kota Melbourne ini akan menjadi seperti ini. Tapi inilah kenyataanya, bahwa dunia ini, yang tadinya adalah baik, kemudian karena dosa, kejahatan, dan kerakusan manusia, menjadi rusak. Bahkan baru beberapa hari yang lalu juga, di Melbourne ada seorang business man yang ditembak mati begitu saja, tanpa diketahui siapa pelaku penembakan.

Memang dunia ini keliatannya bukan menjadi lebih baik, seperti lagu

We are the world, we are the children

Its true we will make a better day

Just you and me

Namun,  apakah benar manusia sendiri sanggup membuat dunia ini menjadi lebih baik?

Saya teringat dengan kejadian yang terjadi pada waktu nabi Yoel hidup, keadaan di mana kehidupan sangat sulit, panen gagal, adanya wabah jangkrik yang melahap semua panen yang ada, benar-benar seperti keadaan yang ada sekarang ini, keadaan yang sangat tidak menentu.

Di saat seperti sekarang ini, nabi Yoel menyerukan kepada seluruh orang untuk bertobat. Tidak terkecuali, kepada orang yang tua, kepada orang muda, kepada anak-anak, kepada siapa pun juga untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Karena memang Tuhanlah yang sanggup me-restore semuanya. Manusia tidak akan dapat sanggup, hanya Tuhanlah yang sanggup.

Yoel 2:12-13a “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setiaNya.

Jelas sekali Tuhan menghendaki agar kita semua untuk  berbalik kepada Tuhan.

Manusia tidak akan sanggup untuk memulihkan apa yang rusak oleh dosa, Hanya Tuhanlah yang dapat memulihkan kita, dan memulihkan hidup kita. Karena Ia adalah pencipta kita. Di dalam kita berbalik kepada Tuhan, Tuhan menghendaki ketulusan dan niat kita untuk benar-benar kembali kepada Tuhan. Bukan kembali kepada Tuhan karena ada ‘maunya’ tapi benar-benar kembali kepada Tuhan dengan tulus, karena di luar Tuhan tidak ada kehidupan, di luar Tuhan yang ada hanyalah maut dan tiada damai. Karena itu biarlah kita dapat berbalik kepada Tuhan.

Di dalam kita berbalik kepada Tuhan, Tuhan menghendaki attitude kita yang tulus, yang dengan menangis, berseru kepada Tuhan, yang berpuasa dan yang melakukan puasa bukan karena tuntutan agama, tapi yang melakukan puasa karena rindu untuk berbalik kepada Tuhan saja, yang melakukan puasa sebagai tanda dari our humility (humbleness), dan pengakuan dosa dan pertobatan kita. Karena Tuhan adalah pengasih, penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setianya.

Kadang kadang saya berpikir, mengapa dulu saya harus menunggu bertahun-tahun, dan mengapa saya harus menolak ajakan dari teman-teman atau kakak rohani saya untuk bertobat, mengapa saya harus berdalih dan dengan seribu satu alasan menolak untuk menerima Yesus sebagai Juruslamat.

Tetapi di dalam kitab Yoel, begitu jelas bahwa bagi mereka yang benar-benar mau berbalik kepada Tuhan, Tuhan akan memulihkan, dan tidak hanya memulihkan yang sekarang, tapi bahkan juga akan akan memulihkan kepada kita tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, (Yoel 2:25) serta kita akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; (Yoel 2:26). Dan saya yakin Firman ini juga berlaku untuk kita semua, bahwa saat kita bertobat, Tuhan akan me-restore semuanya.

Betapa mulianya kehidupan di dalam Tuhan, dan betapa kotornya kehidupan di luar Tuhan. Karena itu biarlah kita mau mendengar seruan untuk bertobat, pertobatan yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi pertobatan yang benar-benar mau berbalik kepada Tuhan dengan humble, dengan segenap hati, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh, maka Tuhan akan memulihkan hidup kita ini. Janganlah kita menunggu ajakan untuk bertobat ini, the time is now because the ‘time’ is near.

Author – Sucipto Prakoso

Cure For The Weary

Letih? Lesu? Ini obatnya!

Kaum muda dikenal karena kekuatan dan energy mereka. Mereka seperti baterai Energizer yang bermoto: “Never say never die”. Tetapi ini Cuma iklan saja. Tidak selalu dan tidak selamanya mereka  mempunyai kekuatan dan energy. (Apalagi saat-saat sekarang ini, dimana banyak assignment due dan dekat-dekat exams).

Dalam ayat 30 pasal 40, Yesaya menggambarkan dua kondisi yang dapat terjadi pada kaum muda, “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung.” Yesaya mengatakan bahwa mereka, pemuda-pemuda itu yang biasanya kuat dan memiliki kemampuan, pada saatnya akan/bisa lemah. Mereka menjadi lelah dan lesu, bahkan jatuh tersandung.

Namun dalam ayat 29, Yesaya menulis: “Dia memberi kekuatan kepada yang lemah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” Kaum muda yang tidak melekat kepada Allah dan taat kepada-Nya akan kehilangan berkat dan kebaikan Allah. Mereka yang mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri akan kehilangan sumber semangat dan kekuatannya yaitu DIA yang mengasihi kita semua. Kekuatan dan semangat, Dia-lah yang empunya, dan Dia-lah yang memberinya.

Sepanjang sejarah, Allah banyak memakai kaum muda. Daud dipakai untuk membunuh raksasa Goliat ketika ia masih seorang remaja. Allah menggunakan Daniel yang ketika itu masih muda. Samuel dipakai melayani Allah ketika ia remaja. Timotius mengikuti  Paulus melayani Tuhan pada usia yang sangat muda. Dan saat ini Allah ingin memakai Saudara, yang muda, yang merasa muda. Untuk itu Saudara memerlukan semangat, dan Saudara membutuhkan kekuatan. Darimana datangnya semangat dan kekuatan ini, kita telah mengaetahuinya yaitu dari DIA sendiri. Akan tetapi, bagaimana untuk mendapatkannya?

Yesaya memberitahu kita dalam ayat 31, bagaimana kita dapat memperolehnya, yaitu dengan “menanti-nantikan Tuhan”. Menanti-nantikan disini bukan berarti duduk diam berpangku tangan sambil ngelamun dan bermalas-malasan. Kata menanti-nantikan ini diterjemahkan dari kata Bahasa Ibrani yang mempunyai dua arti: 1. Menunggu, mencari, mengharapkan, menaruh harapan, dan 2. Mengumpulkan, diikat menjadi satu. Jadi menanti-nantikan disini berarti kita menanti dengan sepenuh harapan di dalam Dia dan menjadi satu dengan-Nya.

Jadi jelas sekali, kalau kita menaruh harapan kita sepenuhnya kepada Tuhan dan menjadi satu dengan-Nya, maka kita akan mendapat kekuatan baru. Meski kita berlari-lari, meski kita sudah berjalan jauh, kita tidak akan menjadi lesu dan kita tidak akan menjadi lelah.

David Sizer adalah sama seperti siswa yang lainnya yang kuliah di Victory Bible Institute di Amerika, hanya ia pada saat itu telah berusia 96 tahun. Sementara siswa lain begitu lelah pada akhir minggu sehingga mereka tidak sanggup menghadiri kebaktian hari minggu, David malah melakukan pelayanan penjara serta panti jompo setiap minggunya. Meski umurnya sudah cukup lanjut, tetapi David tidak letih dan tidak lesu. Dia tahu obatnya.

Kelesuan bukanlah hanya keletihan pada tubuh jasmani, tetapi adalah juga sikap batin/pikiran. Apabila roh dan pikiran kita diperbarui dengan menanti-nantikan Tuhan, Ia akan menanamkan kekuatan ke dalam roh kita, dan tubuh kita akan dipacu oleh Roh yang sama, yang membangkitkan Kristus dari kematian-Nya. Dari dalam sampai bagian luar kehidupan kita, kita akan memiliki kekuatan! Dia akan memnuat kita yang tidak berdaya menjadi orang yang memiliki kuasa Allah.

Apabila Allah memberitahu kita untuk melakukan sesuatu dan kita menanti-nantikan Dia, Ia akan memperbarui kekuatan kita. Sementara kita melayani Tuhan, kelemahan kita diganti dengan kekuatan-Nya. Mekanisme kerohanian kita perlu diperbaharui dengan kehidupan Yesus Kristus yang mengalir terus dalam diri kita. Tingkat kekuatan kita dapat diubahkan, dari kondisi hari ini menjadi suatu kondisi yang lebih baru jika kita bersedia menanti-nantikan Tuhan.

Allah mengasihi dan memulihkan jiwa-jiwa yang hancur. Apabila Tuhan adalah Juruselamat anda, Ia akan membimbing anda ke air yang tenang, dan Ia akan memulihkan jiwamu. Ia akan membawa anda ke tempat dimana anda akan dikenyangkan dan dikuatkan. Ia akan mengisi baterai anda kembali (jauh lebih hebat dari Energizer) sementara anda menanti-nantikan Tuhan! Duduklah dikaki-Nya, nantikanlah Dia dengan penuh pengharapan, dan menjadi satulah dengan Dia.

Author – Alicia Tani

Sumpah Pemuda

Pertama

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Teman-teman, secarik teks di atas merupakan teks orisinil dari Sumpah Pemuda di tahun 1928. Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil dari rapat Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928 dan selanjutnya tanggal itu diperingati menjadi Hari Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda II merupakan kelanjutan dari Kongres Pemuda I yang berlangsung dua tahun sebelumnya pada tanggal  30 April hingga 2 Mei 1926 di Jakarta. Pada Kongres Pemuda terdahulu tidak tercipta hasil putusan yang resmi, tetapi tercetus ide untuk mempersatukan Indonesia. Kongres Pemuda II membahas pentingnya pendidikan kebangsaan dan kepanduan dalam menumbuhkan semangat kebangsaan. Kongres ini diseleengarakan tiga kali dari tanggal 27 Oktober hingga 28 Oktober 1928 di tiga tempat berbeda. Pada rapat pertama, inti dari rapat tersebut adalah harapan untuk persatuan dari para pemuda. Rapat kedua membicarakan pentingnya pendidikan. Rapat penutup membicarakan pentingnya nasionalisme dan demokrasi. Di rapat terakhir ini pula pertama kalinya dikumandangkan lagu Indonesia Raya dan dibacakannya rumusan hasil kongres, yang diikrarkan oleh para pemuda sebagai sumpah setia.

Cerita tentang Sumpah Pemuda membicarakan tentang sumpah dari para pemuda untuk bersatu bagi bangsa Indonesia. Di satu sisi, sumpah menjadi pengikat yang bagus bagi ikrar pemuda untuk bersatu bagi Indonesia, tetapi apa yang dikatakan oleh alkitab tentang sumpah? Yakobus 5 : 12 mengatakan “Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.” Jadi, apakah sumpah itu merupakan hal yang keliru? Beberapa forum diskusi kristiani membahas topik tentang sumpah dan ada beberapa hal yang bisa didapat dari diskusi ini. Sumpah menurut kamus bahasa Indonesia merupakan pernyataan yang diucapkan secara resmi dan benar dengan TUHAN sebagai saksi.

TUHAN YESUS dalam Matius 5: 33 mengajarkan “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.” Menurut 1 Samuel 9: 16 sumpah adalah kutukan atas orang yang melanggar ucapannya sendiri atau, menurut Markus 14: 71, ketika orang itu tidak mengatakan kebenaran. Di dalam alkitab sendiri kita melihat berbagai macam sumpah dan berbagai macam cara, juga berbagai macam akibat ketika tidak menaati sumpah tersebut.  Kita melihat bahwa TUHAN ALLAH sendiri bersumpah, TUHAN YESUS juga diperhadapkan dengan sumpah dan Paulus juga bersumpah. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang menjadi inti dari sumpah adalah mengatakan kebenaran. Kita bisa berkata ‘ya’ dan ‘tidak’ lewat sumpah kita, tetapi yang penting adalah makna kebenaran kita dari dua kata tersebut dan bagaimana kita bisa mempertanggung jawabkannya kepada TUHAN.

Author – Levi Sunaryo